Aku merindukanmu AYAH


Saat ayah masih hidup dan bersama kita, mungkin keberadaan mereka tidak begitu penting buat kita. Bahkan kita kadang tidak merindukannya saat beliau tugas keluar kota. Tapi itu akan berbeda 180⁰, saat beliau pergi meninggalkan kita untuk selamannya. Karena tak ada lagi tempat kita mengadu saat menghadapi masalah dan saat kita ingin memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Entah apa yang terjadi dengan diriku, awal tahun ini (bulan Muharram 1433 H), aku sering membayangkan wajah ayah. Bahkan kadang saya merasa ayah ada bersamaku, duduk bersamaku, bahkan sedang bercanda denganku. Ternyata aku sadar itu hanya pikiran dan imajinasiku, entah apa yang terjadi aku merasa beliau memang seakan hadir di dekatku. Dan setiap aku memikirkan ayahku, air mata senantiasa menetes karena mengenang jasa-jasa beliau semasa masih hidup. (Semoga impianku untuk menulis buku tentang biografi beliau cepat selesai.Amin)

Tapi air mataku mengalir dengan sangat derasnya, saat tanpa sangaja saya ikut melihat film yang dinonton istriku. Film yang berjudul “I Not Stupid too”, awalnya saya biasa-biasa saja dan mencoba memahami alur cerita filmnya. Film yang menceritakan tentang orang tua dan guru yang kurang memahami keinginan anak/muridnya dan tidak pernah memberikan respon yang baik setiap aktivitas yang dilakukan anak/muridnyanya walaupun pada dasarnya mereka sayang terhadap anaknya tapi caranya yang kurang tepat. Tetapi menjelang akhir film itu air mataku menetes dan mengalir dengan deras, dan dada terasa sesak karena saya mengigat Almarhum ayahku. Karena ayah yang ada di film yang saya nonton sangat berbeda 180⁰ dengan ayahku tercinta.

Saya membayangkan ayahku yang luar biasa, ayah adalah sosok pekerja keras, ayah yang selalu mendukung setiap pilihan-pilhan yang saya ambil selama saya hidup. Ayah yang selalu mendukung 100 % semua aktivitasku dalam dakwah dan perjuangan ini. Ayah yang selama hidupnya, tidak pernah sedikitpun melayangkan tanganya ke tubuhku atau memukulku karena aku melakukan kesalahan. Bahkan masih teringat dengan jelas di ingatanku beliau adalah ayah yang hanya marah kalau kami tidak sholat, lebih dari itu bilau tidak pernah membentak dan memarahi kami anak-anaknya. (itu yang ada dalam ingatanku saat-saat film itu akan habis)

Ternyata hal yang sama juga terjadi pada istriku, diapun menangis. Karena juga mengigat ibunya yang sudah meninggalkan dia, saat dia baru semester 2 (tahun 2010 lalu).
Alhamdulillah saya masih punya Ibu dan Istriku masih punya Ayah, jadi sedikit terobati rasa kehilangan kami berdua.

Ayah….Ayah….aku merindukanmu, Ya Allah jadikanlah kami anak yang Sholeh. Agar orang tua kami bangga terhadap kami. Dan beliau dapat merasakan aliran pahala yang akan terus mengalir, saat kami melakukan amal-amal sholeh.

Catatan dari anak yang bercita-cita menjadi anak sholeh. Amin

Hormatku

+Muhammad Sabran  Ingin Ngobrol bersama saya Like Fans Page MS- Muhammad Sabran atau Follow Twitter @MuhammadSabran
Share on Google Plus

About Muhammad Sabran

0 komentar:

Posting Komentar