Kompetensi Para Pendakwah

Layak di baca buat sahabat-sahabat Aktivis Dakwah Kampus.
Berhasil tidaknya gerakan dakwah sangat ditentukan oleh kompetensi para pendakwahnya. Maksud dari kompetensi di sini adalah sejumlah pemahaman, pengetahuan, penghayatan, perilaku, dan keterampilan yang mesti dimiliki para dai.
Berikut kompetensi standar yang harus dai miliki:

1. Memahami Islam secara komprehensif, tepat dan benar
Dr Abdullah Nashih ‘Ulwan mengartikan ‘memahami Islam secara komprehensif’ adalah seorang dai yang memiliki tsaqafah atau wawasan yang bersumber dari Islam sebagai sentral dakwahnya di masyarakat. Yaitu meliputi Al-Qur’anul Karim dan tafsirnya, Sunnah Nabi dan kitab-kitabnya, sirah dan urgensinya, ilmu tauhid, fikih dan ushul fikih. Seperti dalam pepatah ‘faqdusy-syai laa yu’thi’, seorang yang tidak memiliki apa-apa tidak akan dapat memberikan apa-apa.

2. Memiliki al-akhlaq al-kariimah
Pribadi yang menyampaikan ajaran agung dan mengajak orang menuju kemuliaan, haruslah seorang dai yang memiliki akhlak mulia pula. Hal itu terlihat dalam seluruh aspek kehidupannya, seorang dai harus memiliki sifat shiddiq, amanah, sabar, tawaddhu’, adil, lemah lembut, dan selalu ingin meningkatkan kualitas ibadahnya, serta sifat mulia lainnya.
Lebih dari itu, kunci utama keberhasilan dai adalah satu kata dan perbuatan. Allah mengancam dai atau siapa saja yang perkataannya tidak sejalan dengan perbuatannya. Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat, amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan,” (QS Ash-Shaaf [61]: 2-3).

3. Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang luas
Cakupan pengetahuan di sini setidaknya terkait ilmu dalam pelaksanaan dakwah. Seperti kemampuan berbahasa, ilmu komunikasi, ilmu sosiologi, psikologi dakwah, dan teknologi informasi, baik cetak maupun elektronik. Penguasaan dai terhadap wawasan ini akan menajamkan pembahasan terkait segi akhlak serta emosi dalam pembentukan pribadi Muslim dan pembinaannya secara spiritual, pedagogis dan tingkah laku.

4. Memahami hakikat dakwah
Hakikat dakwah pada dasarnya adalah mengadakan perubahan. Perubahan dari kebodohan kepada keilmuan, perubahan dari keimanan atau keyakinan yang batil kepada keyakinan yang benar, dari tidak paham agama Islam menjadi paham Islam, dari tidak mengamalkan Islam menjadi mengamalkan ajaran Islam. Allah tidak akan memberi petunjuk dan kemudahan kepada manusia untuk berubah kecuali bila ia berjuang dengan kesungguhan, tekad yang kuat, ikhtiar yang maksimal. Allah berfirman, Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri,” (QS Ar-Ra’d [13]: 11).

5. Mencintai objek dakwah (mad’u) dengan tulus
Mencintai mad’u merupakan salah salah satu modal dasar bagi dai dalam berdakwah. Seorang dai harus menyadari bahwa objek dakwah adalah saudara yang harus dicintai, diselamatkan dan disayangi dalam keadaan apa pun. Hal ini akan membawa ketenangan dalam berdakwah, meskipun kondisinya objek dakwah menolak, meremehkan bahkan membenci pesan yang disampaikan.

Kecintaan dai terhadap mad’u tidak boleh berubah menjadi kebencian. Hati dai boleh prihatin, dan di balik keprihatinan tersebut seyogyanya dai dengan ikhlas mendoakan agar mad’u mendapat petunjuk Allah swt. Demikianlah yang telah dicontohkan Rasulullah saw, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri,” (HR Bukhari dan Muslim).
Waktu Nabi Muhammad saw berdakwah, beliau dicaci maki dan disakiti secara fisik, Nabi saw berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti.”

6. Mengenal baik kondisi lingkungan
Dai harus memahami latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, budaya dan berbagai dimensi problematika objek dakwah. Paling tidak dai mendapat gambaran selintas tentang kondisi mad’u secara umum agar pesan dakwah komunikatif atau sesuai dengan kebutuhan mad’u.
Contohnya kasus orang Badui yang—maaf—kencing di pojok masjid.Para sahabat ketika itu meneriakinya dan hendak mencegahnya, namun Nabi saw dengan penuh bijaksana bersabda, ”Jangan kalian putuskan kencingnya!Maka tatkala orang tersebut menyelesaikan hajatnya, Nabi menyuruh agar tempat yang terkena air kencing tersebut disiram dengan seember air, lalu memanggil orang Badui tadi dan bersabda kepadanya, “Sesungguhnya masjid ini tidak layak untuk membuang kotoran di dalamnya, namun ia dipersiapkan untuk shalat, membaca Al-Qur’an dan dzikrullah.”
Nabi membiarkan orang Badui tersebut meneruskan kencingnya, sebab jika ia berdiri untuk menghentikan kencingnya maka akan terjadi dua keburukan baru, yaitu melebarnya air kencing ketika lelaki itu berdiri dan terbukanya auratnya di hadapan orang. Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa Nabi melakukan pembiaran justru karena penguasaaan situasi yang beliau miliki.

 7. Memiliki sifat shiddiq (jujur) dan rasa ikhlas
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (shidqin),” (QS At-Taubah [9]: 119].
“Benar” (Ash-Shidqu) adalah seimbangnya antara batin dan lahiriah. “Orang yang benar” adalah benar dalam perkataannya dan segala perbuatannya, serta benar dalam segala kondisinya. Allah swt senantiasa bersamanya karena ia konsisten dalam kebenaran.
Al Junadi ra berkata, “Benar” (Ash-Shidqu) adalah mengatakan kebenaran dalam kehancuran. Disebutkan pula bahwa “benar” (Ash-Shidqu) adalah mengimplementasikan apa yang ada dalam batin dengan lisan. Disebutkan pula bahwa “benar” (Ash-Shidqu) adalah menjauhkan hal-hal yang haram dari perkataan. Jadi Ash-Shidqu adalah mematuhi Allah swt dengan perbuatan. (ummi-online.com)
Share on Google Plus

About Muhammad Sabran

0 komentar:

Posting Komentar