ICMS 2014 : We Need Khilafah, Not Democracy

Pelaksanaan ICMS 2014 Di Baruga A.P. Pettarani Kampus UNHAS Makassar

-          Mahasiswa dan Perubahan

Agen Perubahan adalah frasa  yang selalu layak disematkan pada mahasiswa, khususnya mahasiswa Indonesia. Hampir setiap episode pergolakan sosio-politik di negeri ini, mahasiswa turut andil di dalamnya, bahkan tak jarang menjadi katalisator utama munculnya perubahan-perubahan besar yang berdampak luas. Terlepas dari beragamnya ide yang diemban, catatan sejarah membuktikan bahwa mahasiswa selalu hadir untuk perubahan. Lihatlah mahasiswa era Sumpah Pemuda, Gerakan Mahasiswa 45, Angkatan 66, Malari 74, Gema 77/78, gerakan mahasiswa pasca NKK/BKK, hingga gerakan mahasiswa 98 yang melahirkan reformasi. Meski pasang dan surut, sejatinya mahasiswa tidak akan lepas dari fitrahnya yakni ‘merancang perubahan’. Oleh karena itu arah Indonesia ke depanjuga bergantung padadaya dorong mahasiswa untuk ‘memicu’ lahirnya perubahan.

-          We Need Khilafah, Not Democracy.

Namun sayangnya sejarah menunjukan bahwa arah perjuangan mahasiswa lebih banyak bersuara untuk demokrasi, padahal sesungguhnya demokrasilah biang dari rusaknya negeri ini. Berbagai perundang-undangan yang mencekik hak rakyat lahir  atas nama demokrasi,   Berkat demokrasi pula kapitalis dan Asing dengan mudahnya menghegemoni Indonesia. Ini adalah konsekuensi dari diterapkannya sistem yang memang telah rusak dari akar filosofisnya. Maka tidak heran jika penerapan demokrasi akan selalu dekstruktif.

Indonesia hari ini dan ke depan bukan lagi butuh demokrasi atau masih berharap pada proses berdemokrasi. Justru demokrasilah yang mesti dicampakkan!Kemudian digantikan dengan ideologi dan sistem yang paripurna, matang secara konseptual dan terbukti secara empiris mampu membawa kebangkitan. Satu-satunya harapan hanya pada Islam. Sebagai ideologi yang melahirkan sistem kehidupan paripurna dalam berbagai aspeknya, Islam mampu menjawab berbagai problematika manusia.Oleh karena itu arah perubahan mesti diarahkan pada penerapan Islam, yaitu dengan ditegakkannya institusi Khilafah. Khilafah sebagai institusi yang akan menerapkan Islam secara sempurna akan menuntaskan semua kebobrokan akibat diterapkannya demokrasi.

Wal hasil sudah saatnya mahasiswa mengganti mainstream perjuangannyadenganseruan Islam, seruan penegakkan Khilafah.Saatnya mahasiswa menyeru We Need Khilafah, Not Democracy.

-          ICMS 2014

Demi mewujudkan perubahan tersebut, mahasiswa Indonesia dan berbagai pergerakannya perlu menyatukan mainstream perjuangan dan mengkristalkan opini perubahan ke arah Islam. Oleh karena itu Mahasiswa Hizbut Tahrir Indonesia sebagai salah satu pergerakan mahasiswa Indonesia, berupaya menciptakan opini umum tersebut dan menyatukan mainstream perjuangan mahasiswa dengan menyelenggarakan ICMS  (Indonesia Congress of Muslim Student) 2014. Kongres ini adalah  terbesar dalam sejarah pergerakan mahasiswa Indonesia.Hadir dalam agenda ini 50.000 aktivis dan 1000 pergerakan mahasiswa. Kongres dilaksanakan di 93 Kota besar seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua, mulai 10 September 2014 dan puncaknya diselenggarakan di Jakarta, 02 November 2014, tepat di depan pusat penguasa yakni Istana Merdeka. Sesungguhnya agenda ini dilaksanakan atas dasar keimanan kepada Allah SWT dan menjalakan perintah-Nya. Mencampakkan sistem kufur demokrasi adalah hal yang tidak bisa ditawar lagi. penerapan demokrasi bertentangan dengan akidah Islam karena demokrasi telah meletakkan kedaulatan ditangan manusia. Secara faktual demokrasi juga telah menjadi biang segala kebobrokan yang terjadi di negeri ini. Maka tidak ada lagi alasan untuk melanggengkan sistem kufur tersebut. Di sisi lain Allah SWT. sesungguhnya telah mewajibkan penerapan Islam secara kaafah melalui ditegakkannya Khilafah. Secara konseptual dan empiris Khilafah juga terbukti mampu membawa umat manusia menuju kebangkitan hakiki sebagamana tercatat dalam sejarahnya yang panjang. Maka tidak ada lagi seruan perjuangan yang hakiki selain, seruan Islam, seruan penegakkan Khilafah. Melalui ICMS 2014, mahasiswa menyeru “We Need Khilafah, Not Democracy”.
..............................................................................................................................................

Alhamdulillah dengan kerja keras panitia dan pertolongan Allah SWT. Acara ICMS 2014, telah sukses terlaksana. Sekitar 50.000 Mahasiswa Menyukseskan Kongres Mahasiswa yang di laksanakan di 93 Kota di Indonesia. Kongres Mahasiswa terbesar ini di selenggarakan  Oktober - Nopember 2014.

Acara puncak ICMS (Indonesia Congress of Muslim Student) digelar di Jakarta hari Ahad (2/10). Aksi yang dimulai sejak pukul 08.00 hingga pukul 13.00 ini diikuti oleh sekitar 500 pergerakan dan dihadiri 10.000 peserta mahasiswa dari seluruh Indonesia. ICMS bertempat di depan gedung DPR/MPR RI, dan kemudian dilanjutkan di depan gedung Istana Negara. Acara ICMS di Jakarta ini merupakan puncak dari rangkaian acara serupa yang digelar di lebih dari 90 kota di seluruh Indonesia.

ICMS yang merupakan kongres jalanan mahasiswa terbesar tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Acara bertemakan “We Need Khilafah, Not Democrazy and Liberal Capitalism” ini diadakan dalam rangka menyatukan arah tujuan pergerakan mahasiswa untuk menyelamatkan Indonesia dari kebobrokan demokrasi.

Ricky Fatamazzaya, ketua panitia ICMS, mengatakan, “dari tema di awal itu, kita ingin menunjukkan bahwa kita masih komitmen dan konsisten untuk membuang demokrasi dan harus mengambil khilafah sebagai solusi tuntas untuk berbagai permasalahan di Indonesia dan di seluruh dunia.”

Di samping itu, para mahasiswa yang mengikuti ICMS juga menyampaikan resolusi kepada rezim Jokowi-JK. Resolusi tersebut memuat lima poin.

Pertama, berisi tuntutan kepada rezim Jokowi-JK untuk segera menghentikan sistem sekular dan menggantinya dengan sistem Islam. Inilah satu-satunya solusi yang benar, yang akan membawa rahmatan lil’alamin atau kebaikan bagi negeri ini, sekarang dan yang akan datang.
Kedua, berisi seruan untuk menghentikan dominasi asing dalam berbagai bidang, khususnya dalam pengelolaan SDA.

Ketiga, berisi tuntutan untuk menghentikan pinjaman luar negeri dan hutang ribawi. Sebagai gantinya, wujudkan Rp. 3000 Trilyun APBN yang berasal dari pengelolaan kekayaan alam, zakat, fa’i dan jizyah untuk memberikan jaminan kebutuhan sandang, papan dan pangan, serta kesehatan, pendidikan dan keamanan yang berkualitas dan gratis untuk seluruh rakyat.

Keempat, berisi seruan untuk mengalihkan investasi di sektor non riil kepada sektor riil sehingga akan membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk menyelesaikan 7,24 juta pengangguran dan 47 juta rakyat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Kelima, berisi tuntutan untuk mewujudkan sistem pendidikan dan budaya yang Islami, serta hentikan segala pergaulan bebas,pornografi, dan pornoaksi yang telah kemudharatan yang sangat mengerikan bagi generasi muda, seperti aborsi, narkoba, dan berbagai kejahatan remaja.

Di akhir aksi, beberapa perwakilan mahasiswa kemudian menyerahkan surat berisi resolusi yang ditujukan kepada ketua MPR dan DPR, serta ditujukan pula kepada presiden Jokowi.(Dari Berbagai Sumber)

Share on Google Plus

About Muhammad Sabran

0 komentar:

Posting Komentar