Bersama Pak "DE" di Mushola Pantai Kuta Bali

Saat saya melakukan tour bersama rekan-rekan kerja ke Pulau Dewata selama 3 hari (http://www.muhammad-sabran.com/2016/02/tour-ke-pulau-bali.html), salah satu tempat yang sulit saya temukan adalah tempat sholat. Tapi saya dapat memakluminya, karena saya berada di daerah yang mayoritas penduduknya beragama HINDU. Makanya bali juga dikenal dengan Pulau Seribu Pura. Selain itu saya juga baru pertama kali ke bali, jadi belum tau banyak di mana letak Masjid-Masjid di bali. Karena kalau saya cari di internet ternyata masjid di bali lumayan banyak juga, karena muslim adalah jumlah penganut terbanyak kedua setelah agama hindu

Salah satu kebahagiaan yang luarbiasa saya rasakan, saat berada di Pulau Bali adalah saat bertemu dengan saudara seiman yang menetap di Bali, duduk bersama berbagi cerita dan pengalaman hidup.

Siang itu, saya sedang berada di Pantai Kuta. Alhamdulillah turun dari mobil liat tulisan mushola. Tapi saat saya cari musholanya, hampir saja saya mengurungkan niat karena tidak ketemu. Untung ada ibu yang lagi jualan saya tanya, dimana letak Mushola yang tertulis disana? sambil menunjuk kearah pos. Ternyata musholanya berada di balik Hotel, tidak sesuai dengan arah panahnya...(Bingung #@%&^). Makasih bu.

Alhamdulillah akhirnya ketemu juga, mushola yang saya ngak tau apa nama. Saya langsung berwudhu dan sholat, tapi saya heran ko ngak ada penjaganya ya. Jadi saya harus bayar dimana ? tanyaku dalam hati...Karena ada tulisan buang air kecil Rp. 2.000. Karena ngak ada orang jadi saya putuskan sholat aja dulu.

Setelah sholat ada seorang bapak yang duduk sambil menjaga sepatu saya, ternyata beliaulah yang mengurus mushola selama ini. Akhirnya saya memutuskan untuk berkenalan dan berbincang-bincang bersama beliau.

Nama beliau Bapak Muh. Ikhsan (mamat) usia 63 Tahun, tapi panggil saja saya pa' de kata beliau.

Saya di panggil Pa' de oleh orang-orang disini karena saya termasuk orang yang dituakan, dan saya juga termasuk orang yang memperjuangkan berdirinya Mushola ini, sebagai tempat sholat teman-teman penjual yang berada di sepanjang pantai kuta, karena yang berjualan di pantai kuta itu banyak pendatang dan muslim. Alhamdulillah disini banyak yang sholat, khusunya wisatawan muslim yang berkunjung ke pantai kuta seperti ade, karena mushola ini termasuk satu-satunya tempat sholat disini kata Pa' De dengan semangatnya bercerita. Karena semangat beliau itu, sehingga berat rasanya saya meninggalkan beliau, apa lagi saya ingin tau lebih banyak perjalanan hidup dari pa' de.

Lanjut cerita : Pa' de menceritakan bagaimana perjuanagan beliau, agar mushola ini bisa berdiri. Sungguh sangat sulit dan butuh waktu lama kata beliau, karena pemilik hotel ini berbeda keyakinan dengan kita (Nasrani).

Dan alhamdulillah dengan Izin Allah dan bantuan dari salah satu karyawan hotel (sambil menunjuk ke sesorang Ibu), akhirnya pemilik hotel memberikan tempat untuk musholla. Awalnya tulisan Musholapun dilarang, tapi sekarang sudah tidak.

Mushola ini berdiri sejak tahun 2007, berarti sudah 9 tahun ya sampai sekarang. Dan saya mengurus sendiri Mushola ini, sebenarnya sudah banyak orang dari luar bali yang mau memberikan bantuan perluasan mushola. Tapi saya tolak, karena memang ngak bisa karena kita hanya numpang ditanah pemilik hotel.

Pa' de punya istri dan anak ? tanyaku...

Iya ada dirumah, sebenarnya ada tempat disini yang bisa saya tempatti. Tapi ngak boleh bawa istri dan anak, jadi saya ngak tinggal disini.

Jadi pekerjaan pa' de? Alhamdulillah dengan mengurus musholah dan WC disini, Allah mencukupi kebutuhan saya. Dulunya saya bekerja mobil sewa, tapi saya berhenti. Dan sejak tahun 2007 saya disini.

Kita disini sangat Toleransi dengan agama hindu, kalau waktu sholat jum'at dan bertepatan dengan Nyepi wah susahnya luar biasa. Tapi Alhamdulillah selama ini kita dapat menjalankan sholat jum'at setelah melakukan rembuk atau diskusi dengan tokoh agama mereka.

Beliau juga sempat bercerita peristiwa terjadinya Bom bali dan pasca terjadinya BOM Bali, banyak umat Islam yang disuruh pulang ke kampung halaman karena memiliki kesamaan tempat dengan pelaku Bom Bali. Alhamdulillah semua itu sudah berlalu, saatnya kita menatap masa depan.

Sebenarnya banyak hal yang beiau ingin ceritakan kepada saya, tapi karena saya harus segera menysul Rombongan ke pantai kuta. Akhirnya kami harus berpisah.

Hikmah yang bisa saya ambil dari Pa' De adalah :

-  Hidup dekat dengan Mushola itu membuat hidup lebih tenang. Karena lebih dekat dengan Allah SWT
- YAKINLAH... bahwa Allah SWT akan membatu kita, jika kita menolong Agamanya (menyediakan tempat sholat dan merawatnya)
- Sebesar apapun ujian yang menimpa kita (apalagi pasca bom bali) kita harus kuat dan sabar. Dan harus bisa menjelaskan bahwa Islam tidaklah seperti yang mereka gambarkan (Islam Bukan Teroris)
- Mencari Rezeki yang halal buat anak dan istri
- Mau meninggalkan pekerjaan sebelumnya. Karena beliau  merasakan banyak pelanggaran agama yang dilakukan dipekerjaan lama. (Hijrah)

Sampai ketemu di lain waktu Pa' De

Hormatku

+Muhammad Sabran  Ingin Ngobrol bersama saya Like Fans Page MS- Muhammad Sabran atau Follow Twitter @MuhammadSabran
Share on Google Plus

About Muhammad Sabran

0 komentar:

Posting Komentar