"Melawan Arus"

Assalamualaikum.wr.wb

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah atas segala nikmat-Nya yang diberikan kepada kita semua. Tak lupa kita panjatkan sholawat dan salam kepada Junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada para sahabat dan kepada keluarganya.

Pada kesempatan ini saya ingin menulis tentang orang-orang yang mencoba untuk terus-menerus“MELAWAN ARUS” kehidupan dan Istiqomah dijalan-Nya.
Disaat banyak orang yang melakukan aktivitas RIBA (Baik dalam aktivitas jual beli maupun pinjam meminjam uang, atau dalam hal membeli barang/kepemilikan seperti membeli Rumah, Mobil, Motor dll). Alhamdulillah disaat yang sama masih ada orang-orang yang “Melawan Arus” , mereka senantiasa menjaga diri dan keluarganya dari RIBA (Riba berarti menetapkan bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan).

Semoga kita yang senantiasa “Melawan Arus” untuk tidak melakukan aktivitas riba dan terus istiqomah, karena ketaatan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah SWT telah mengigatkan kita, tentang hukuman bagi pelaku riba kelak. 
Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba, tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat) bahwa sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah [2]: 275). Ibnu Katsir rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat di atas,Maksudnya, tidaklah mereka berdiri (dibangkitkan) dari kubur mereka pada hari kiamat kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan dan dikuasai setan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/708)
Sedangkan hukuman didunia adalah
Allah Ta’ala berfirman,“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al Baqarah [2]: 276) Ini adalah hukuman di dunia bagi pelaku riba, yaitu Allah akan memusnahkan atau menghancurkan hartanya. 
“Menghancurkan” ini ada dua jenis: Pertama, menghancurkan yang bersifat konkret. Misalnya pelakunya ditimpa bencana atau musibah, seperti jatuh sakit dan membutuhkan pengobatan (yang tidak sedikit). Atau ada keluarganya yang jatuh sakit serupa dan membutuhkan biaya pengobatan yang banyak. Atau hartanya terbakar, atau dicuri orang. Akhirnya, harta yang dia dapatkan habis dengan sangat cepatnya. Ke dua, menghancurkan yang bersifat abstrak, yaitu menghilangkan (menghancurkan) berkahnya. Dia memiliki harta yang sangat berlimpah, akan tetapi dia seperti orang fakir miskin yang tidak bisa memanfaatkan hartanya. Dia simpan untuk ahli warisnya, namun dia sendiri tidak bisa memanfaatkan hartanya. (Lihat penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin di Syarh Riyadhus Shalihin, 1/580 dan 1/1907). 
dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu bahwasannya ia menuturkan,“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan / membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda, ‘Mereka itu sama dalam hal dosanya’.” (HR. Muslim).

Itulah orang yang pertama yang berani untuk "Melawan Arus" agar tidak terlibat dalam aktivitas RIBA. Semoga kita termasuk didalamnya....

Bersambung.....
Share on Google Plus

About Muhammad Sabran

0 komentar:

Posting Komentar