Hadiah Terakhir Menuju Detik Perpisahan

“Ini hadiah untukmu dan adikmu. Masing-masing dapat empat lembar.” Kata ayah. Dan itu ternyata pemberian terkahirnya.”

Jika ingin cinta itu tumbuh, maka saling memberi hadiahlah. Ini kebiasaan yang sering ayah contohkan kepada anak-anaknya. Hadiah diberikan dengan kejutan, menambah seru suasana. Ayah selalu hadir dengan hadiah yang berarti dan memang dibutuhkan anaknya. Saat melihat sepatu anak-anaknya sudah mulai rusak, ayah begitu peka. Tanpa diminta, di akhir bulan beliau akan datang dengan wajah berseri. Sembari membawa satu kotak kejutan. Wah ternyata di dalamnya ada sepatu baru. Inilah ayah. Peka terhadap kebutuhan anak-anaknya. Juga kalau hadir selalu membawa kejutan. Semoga ini ciri ayah yang berhasil. Kehadiran ayah selalu dinanti-nanti. Apalagi kalau di penghujung bulan atau baru gajian. Pasti ada kejutan. Ayah gagal adalah yang kehadirannya justru menjadi momok menakutkan bagi anak. Ah ayah, datang lagi-datang lagi. Lihat saja pasti marah-marah. Pasti suruh-suruh. Semoga kita tak pernah merasakan ini. Dan kelak, untuk yang akan menjadi orang tua, semoga tidak mengalami hal itu. Kehadirannya tidak dinanti oleh anaknya. Dirinya gagal menjadi orang tua yang dirindu.
Dari sekian banyak hadiah yang pernah ayah berikan, ada satu hadiah yang sangat berkesan. Apa sebabnya? Karena hadiah ini beliau berikan kepada kelima anaknya. Jumlahnya sama, hanya warna yang beda-beda. Semakin berkesan pemberian itu, karena diberikan beberapa hari sebelum beliau wafat. Barangnya memang sederhana. Namun pesan yang menyertai pemberian itu yang membuatnya menjadi luar biasa. Sambil memberi ayah berpesan, pesan yang tidak akan pernah saya lupa, “Ini Nak, hadiah dari ayah. Untukmu. Kakak dan adikmu masing-masing dapat empat lembar. Kalau bisa dipakai salat.” Setelah diberi, saya langsung berucap terima kasih dan memeluk erat ayah. Tak pernah terbesit dalam diri, kalau itu adalah pemberian terakhirnya. Dalam pesan beliau itu ada makna yang luar biasa. Seolah ingin mengingatkan anak-anaknya untuk tidak pernah melupakan salat. Dan jangan lupakan Allah. inilah sebaik-baik warisan ayah kepada anaknya.
Pesan untuk selalu bertakwa. Menyembah Allah dan tak pernah menduakan-Nya. Inilah pesan Lukman kepada anaknya. Begitu pentingnya pesan itu, sampai Allah mengabadikannya dalam Al-Quran:
“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya; Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (TQS. Lukman: 13). (MS)
Share on Google Plus

About Muhammad Sabran

0 komentar:

Posting Komentar