Duka dan Luka Cinta Pertama

By: Andi Haerani

"Tidaaak!"
"Lepaskaan!"
"Jangan!"
"Kasihan Kamu Tega sekali!"
"Apa yang kau lakukan!"

Teriakan teriakan histeris bercampur isak tangis para tetangga yang berkerumun sungguh telah berhasil  membangunkan aku dari tidur nyenyakku sepanjang siang itu.

Ya Allah, ada kericuhan apa lagi diluar. Rupanya kejadian serupa kembali terulang. Tapi kali ini, lebih mencekam dari sebelumnya.


Sepotong adegan perkelahian itu masih sempat aku saksikan setelah puncak adegan pemukulan seorang pemuda terhadap Ayah kandungnya sendiri. Semua orang sudah panik termasuk juga denganku.

Aku keluar dan di halaman rumahku seorang Ibu dan anak lelakinya telah tergeletak ditanah. Anak lelaki itu dalam posisi tengkurap sedang ibunya telentang diatas punggung anaknya berusaha memisahkan anak dan suaminya. Antara sadar dan tidak, tatapan mata ibu itu sudah kosong menghadap langit. tubuhnya kaku, dadanya sesak terdengar dari nafas yang sudah tersengal-sengal. Wajahnya nampak sangat pucat penuh raut kekhawatiran. Kerumunan warga terbagi tiga beberapa orang memegangi si pemuda, sebagian lagi menahan Ayah pemuda itu, selebihnya berusaha menyadarkan dan mengobati sang Ibu si pemuda.

***
"Aku sangat membenci kelakuan kakak terhadap Ayahku. Kondisinya saat itu sudah tidak sehat, tenaganya kurang, ia bahkan tak bisa menopang dirinya sendiri, apalagi untuk menyelamatkan diri dari serangan kakakku.

Sampai saat ini, aku sendiri tak bisa menahan sesak dada jika kembali mengingat bagaimana tangan kakakku mencengkeram kedua mulut Ayah, menendang dadanya, mengapit kepala Ayah dengan satu tangan yang melipat, sedang tangan lainnya memukul dengan kuatnya hingga wajah Ayah lebam". Curhat adik wanita si pemuda yang tega memukuli ayahnya sendiri.

Aku yang mendengar tak sanggup membendung air mataku, ikut terisak saat anak gadis bermata jeli itu menceritakan lengkap setiap kepingan cerita pertikaian  sore itu.

Kadang aku tak habis fikir bagaimana bisa seorang anak tega melukai cinta pertamanya. Orang tuanya. Bukan hanya ia berhasil menggoreskan luka fisik, tetapi juga luka hati. Di hati pemuda itu? Sedikitpun tak ada tanda kedukaan apalagi rasa iba. Nauzubillah min dzalik

Selama ini, aku sendiri menyaksikan betapa besar kasih saya orang tuanya terhadapnya. Kesabaran sipemuda dalam kesehariannya masih sempat kusaksikan. Namun semua berubah ketika ia digerus oleh lingkungan pertemanan yang rusak hingga sipemuda pun, terjerembab dalam candu obat-obatan.

Duh Gusti, sampai sebegitunya efek candu dari obat-obatan itu. Ingatan saya pun kembali mengakumulasikan setiap puing-puing kisah yang masih terjadi didaerahku. Tentang para pecandu yang telah berhasil dirusak akal sehatnya.

Pecandu-pecandu yang 'sukses' mendurhakai cinta pertamanya terlampau sering aku dengar. Beragam kasus. Ada yang dengan tega mencuri uang orang tuanya, memalak orang secara paksa, melakukan busur dimana hal itu sampai ke telinga ayah-ibu mereka. Malu bercampur sedih pasti. Paling mengerikan adalah saat mendengar pemuda yang tega menendangi bokong ibunya disaat Salat. Ada juga yang telah meninggal ditepi jalan dekat rumah sakit sini karena overdosis. Untuk kasus overdosis itu, konon orang tuanya sendiri seringkali merasa muak dengan kelakuan anaknya.

Entahlah, apakah kasus-kasus pemuda ini masuk dalam angka statistik catatan hitam kenakalan remaja yabg kian meningkat atau tidak. Tapi dugaanku kuat tidak, sebab kebanyakan yang kudapat ini belum terlapor. Tetapi bisa kusimpulkan bahwa lingkungan yang sudah semakin rusak ini telah menghantui  pintu-pintu rumah setiap keluarga.

Membuktikan bahwa keluarga saja tak cukup untuk generasi itu menjadi baik, berakhlak mulia. Dibutuhkan lingkungan berakhlak yang membuat setiap individu lebih bertakwa bukan jauh dari agama. Andil negara sebagai pengendali yang punya kuasa dan pemegang wewenang tertinggi dalam menentukan kebijakan,  jelas sangat punya pengaruh yang besar dan cukup kuat dalam merubah kondisi yang ada. Agar berakhirlah kisa-kisah menyedihkan tentang anak-anak bangsa yang melukai cinta pertamanya

*Kisah Nyata
Share on Google Plus

About Muhammad Sabran

0 komentar:

Posting Komentar