Kawan, kamu pernah kenalan dengan Mielin?

Dia bukan orang.
Dia organel sel pada sel saraf.
Mielin. Dia istimewa. Semua ciptaan Allah memang selalu istimewa. Mielin bisa merekam aktivitas yang dilakukan organ, yang jika dilakukan berulang kali maka si mielin tadi akan mengerjakannya lagi dan lagi. Automatis. Hari ini iya, besok iya, lusa iya, tulat iya, tubin iya. Rutin. Selalu. Kecil peluang alpa barang sekali.

Lalu berapa lamakah waktu yang diperlukan mielin sebagai pembiasaan agar bisa jadi kebiasaan yang berat untuk ditinggalkan?
40 hari. Tidak kurang dari itu.
.
Bukan asal sebut sekian hari. Tapi dari hadis nabi tentang orang yang sholat berjamaah 40 hari berturut-turut, siang dan malamnya, tanpa terlewatkan takbirotul ihram bersama imam dijamin terbebas dari sifat munafik dan neraka.
.
Tahu kenapa? Karena orang yang berhasil mengerjakan 'challenge' tsb, orang terburuk sekalipun akan merasakan nikmatnya sholat, manisnya iman.
.
Pernah dengar kisah pencuri yang ketahuan mencuri?
Dia mencuri karena terpaksa. Ketahuan oleh si empunya rumah. Tidak. Dia tidak dipenjara karena kisah ini bukan di Indonesia 2018. Tidak juga dipotongtangan karena jumlah yang dicurinya hanya sedikit. Tentu juga tidak dibebaskan. Dia diterapi. Ditantang sholat berjamaah 40 hari bturut“ tanpa ktinggalan takbiratul ihram bersama imam. Rewardnya, dia akan diberikan separuh harta si empunya rumah.
.
Berhasilkah ia?
Pencuri itu menyambut tantangan itu karena tergiur dengan reward yang begitu besar. Hari itu juga dimulainya melaksanakan sholat. Hari pertama, dengan sangat terpaksa dan dengan sangat tidak lillahi ta'ala, dia berhasil sholat 5 waktu berjamaah di masjid. Jangan tanyakan masbuk-masbuknya, sebab sebelum muadzin adzan, dia sudah duduk manis di shaf depan tepat di belakang imam.
.
Pekan pertama berjalan seperti hari pertama. Datang sebelum adzan, posisi belakang imam tetap tidak tergantikan.
Pekan kedua, pencuri itu mulai bosan. Untuk pertama kali, dia dilombai muadzin datang karena ketiduran. Tapi challengenya belum batal.
Pekan kedua, si pencuri itu mulai bosan. Tapi masih setakbiratul ihram dengan imam.
Pekan kedua bergeser, digeser pekan ketiga. Entah kenapa, mungkin kebosanan hanya betah menggelayuti pekan kedua. Setiba pekan ketiga, bosan mulai bergeser. Si pencuri tidak pernah lagi keduluan oleh muadzin. Bahkan sesekali dia minta izin ke muadzin untuk adzan. Pekan ketiga berlalu, pencuri itu tidak lagi pernah galau. Kalau dulu selalu galau menunggu 40 hari berlalu, sibuk menatap waktu, menandai sekian hari yang telah lalu, sekian hari lagi lalu hari keempatpuluh, pada pekan ini tidak terlalu selalu lagi.
Pekan ketiga, malas dan bosannya mulai pergi. Gelar pencurinya mulai terganti. Masyarakat yang dulu menjauhi, beberapa mulai mendekati. Beberapa yang lainnya masih ragu-ragu mendekati. Segelintir mulai peduli. Bergelintir-gelintir sisanya masih enggan peduli. Takut pencuri itu kembali setelah 40 hari. Dikiranya sholat si pencuri itu hanya karena reward semata. Padahal kalau mereka diberi kemampuan meneliti hati, mereka akan mendapati hati si pencuri itu sedikit tapi pasti mulai menghampiri status 'suci'. 
Semakin hari semakin bersihlah hati si pencuri. Ah, tidak. Tidak etis menyebutnya pencuri.
Tidak etis menyebut orang sebagai pencuri ketika doi mulai menghampiri status suci. Sama tidak etisnya dengan mengatakan, “Pezina wanita masuk surga gegara meminumkan seekor anjing yang kehausan menjelang kematiannya“. Baik pencuri, pezina, maupun gelar atas dosa-dosa jurusan lain, atas nama harga diri kumohon tidak usah lagi dipanggil dengan gelar buruknya, jika profesinya mulai atau berakhir baik. Atau paling tidak, imbuhkan gelar “mantan“ sebagai bentuk penghormatan atas kebaikannya.
Jadi tidak ada lagi “Pezina masuk surga“, “Pembunuh 100 orang masuk surga“, dkknya.
Karena surga bukan untuk doi bergelar ahli maksiat. Tapi tidak berarti yang pernah bermaksiat sudah pasti tidak selamat, bukan.
ALLAH, Ghofuur, Rohiim. Pelaku maksiat, ahli maksiat bahkan, akan dimasukkannya ke jannahNYA setelah me'mantan'kan keahliannya dengan bertaubat.
Dari pekan ketiga hingga seterusnya makin bersihlah hati si mantan pencuri.
Tiba hari keempat puluh, si fulan (tidak enak ketik mantan terus) tidak menyadari. Dia tidak lagi menunggui waktu berlalu. Sholat 40 harinya bukan lagi mengharap reward. Dia mulai menyadari sesuatu. Sulit dibahasakan. Sholat 40 hari jika teriming-imingi reward dari manusia sebanyak apapun, dia rasa susah. Tapi sholatnya bisa khusyuk kalau dia ikhlas. Bukan cuma 40 hari, sepanjang masa malah. Bahkan jika diizinkan, dia mau tetap sholat di akhirat nanti. Betapa tidak, nikmat tiada tara, nyaman ndak bersaingan, bgtu perasaan fulan jika sdg sholat.
Fulan bukan hanya tidak menyadari, ia bahkan sepertinya lupa dgn tantangan itu.
Lewat sepekan dari 40 hari sejak kedapatan mencuri, Fulan didatangi mantan korban dan 'terapis'nya. Ingatan Fulan kembali. Baru saja si terapis mengangkat suara, Fulan lantas menyela lalu berbicara.
“Terima kasih untuk tantangan sholat 40 hari dari kalian. Itu benar-benar ampuh, Wahai Terapis...
Kembali ke mielin.
Adalah ALLAH yang maha membolak balikkan hati. Teori 40 hari mielin hanya satu dari sekian cara yang bisa dicoba.
Tanpa mielin-mielinan pun, kalau ALLAH mau, kurang dari 40 hari kita bisa berubah. Dulu terbiasa maksiat jadi gemar taat. Dulu sekadar wajib jadi tambah sunnahnya juga. Dulu sholeh sendiri jadi sholeh berjamaah.
Kan, nyaman. So, tunggu apalagi, kawan?!
Kemudian untukmu, Wahai yang pernah memaafkanku ketika kucuri hartanya. Kalau kau datang untuk memenuhi janji untuk memberiku sebagian hartamu, dengan ucapan terima kasih kuberikan harta darimu kepadamu lagi. Ketahuilah, Wahai Terapis dan Wahai Mantan Korban, Tuhanku sudah cukup bagiku. Sholatku menentramkan hatiku, menyejukkan jiwaku, lalu bagaimana harusnya aku tidak candu? Bagaimanapun, Terima kasih atas tantangan sholat 40 hari itu. Karenanya, aku candu.“
The End
THEN, ACTION!

Share on Google Plus

About Muhammad Sabran

0 komentar:

Posting Komentar