Jangan katakan siap jika tidak berbekal ilmu

Menikah bagi seorang wanita bukan sekedar memakai gaun indah kemudian duduk manis ala ratu di antara indahnya warna warni pelaminan.
Menikah bagi seorang lelaki bukan sekedar menjabat tangan sang wali wanita kemudian mengikrarkan janji dihadapan para saksi.
Menikah bukan sekedar mengadakan walimatul ursy kemudian besoknya liburan dan upload foto berdua pertanda sudah halal.
Tetapi hakikat pernikahan adalah penyempurnah separuh agama, membangun rumah tangga perjuangan, dan menjadikan pernikahan adalah jalan untuk menggapai syurgaNya.

Pasanganmu hari ini adalah hasil ikhtiarmu hari kemarin, maka pertanggungjawabkan janjimu saat itu bahwa bersamanya engkau akan lebih dekat denganNya.
Bekal pertama untuk melanjutkan kehidupan rumah tangga adalah ilmu. Jika hari ini kita disibukkan dengan perkara yang tidak menambah ilmu agama maka sangat belum pantas untuk hidup berumah tangga.
Apa jadinya jika kelak anakmu telah lahir sementara ibunya hanya sibuk bersosmed ria tanpa menyibukkan diri dengan mengkaji ilmu Islam? pendidikan seperti apa yang akan diberikan kepada sang generasi?
Apa jadinya jika kelak istrimu menanyakan suatu perkara yang kamu sendiri tidak mengetahui hukumnya dalam Islam? sementara itu adalah kewajibanmu untuk memenuhi haknya yaitu dibimbing dalam koridor syariat Islam.
Betapa Islam sangat mengatur disetiap sendi kehidupan hingga untuk berumah tanggapun ada aturannya agar tidak salah dalam memilih.
Jika hari ini usahamu untuk menemukan dia yang Allah rahasiakan belum juga bertemu, itu karena Dia masih memberimu kesempatan untuk lebih memantaskan diri lagi dan menambah ilmu untuk bekal dalam mengaruhi kehidupan bersamanya.
Laki-laki maupun perempuan adalah sama wajibnya untuk mengkaji ilmu Islam, disela-sela penantian dan ikhtiarmu saat ini lebih baik sibukkan diri dengan mengkaji Islam serta mendakwahkannya, agar paham hakikat kehidupan ini untuk apa.
Bukannya sok tau tentang kehidupan rumah tangga namun inilah sub bab yang wajib dikaji dalam Islam, selalu menjadi pengamat yang menyaksikan kehidupan mereka yang tidak menjadikan Islam sebagai standarisasi kehidupan, akibatnya pernikahan hanya sebatas "yah" dan "mau"tanpa dibekali ilmu, anak-anaknya hanya sebatas dilahirkan kemudian tumbuh dengan dunia liar menjadi generasi jauh dari kepribadian dan pemikiran Islam sehingga mereka tidak mengenal agamanya bahkan anti dengan Islam itu sendiri, sebuah kehancuran yang nyata.
Tidak terdapat kode terselubung dalam tulisan ini, hanya sebatas coretan pemahaman yang ingin dituangkan agar sampai kepada kalian dan berharap pahala dakwah dari sang maha Cinta.

🖋Saudarimu Nurfadillah
Share on Google Plus

About Muhammad Sabran

0 komentar:

Posting Komentar