Mengembalikan Kemuliaan Perempuan dengan Islam

Oleh:
Nurul Mukhlisa, S.Farm (Aktivis Dakwah)

Setelah sukses menghancurkan institusi pemerintahan Islam sebagai benteng utama umat Islam, yakni Khilafah Islamiyah, tahun 1924. Barat Imperialis kafir sesungguhnya tidak pernah berhenti untuk 'membumihanguskan' Islam dan kaum Muslim.

Benteng terakhir umat Islam pun, yakni Institusi keluarga Muslim, sudah lama mereka bidik untuk juga dihancurkan. Salah satunya adalah melalui gerakan feminisme yang sudah merambah bukan hanya bidang pemikiran, tetapi juga politik dan perundang - undangan.

Ide ini pada awalnya muncul sebagai gerakan perlawanan terhadap sistem yang berlaku tidak adil terhadap perempuan. Pengusungnya meneriakkan feminisme untuk memperbaiki nasib perempuan supaya mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki. Sejarah mencatat bahwa gaung feminisme lahir pada abad 19 di Eropa Barat yang sedang menerapkan kapitalisme.

Perempuan menuntut kesetaraan, sebab dalam beberapa kancah peradaban dunia perempuan menjadi mahkluk yang dinomorduakan, ditindas, dan hanya dimanfaatkan sebatas pemenuh syahwat saja. Zaman Yunani Kuno, perempuan adalah makhluk yang amat hina, tugasnya memenuhi nafsu birahi, serta dianggap sebagai penjelmaan setan.

Perlakuan bangsa Persia terhadap perempuan hampir sama, juga menghinakan perempuan. Dalam kehidupan bermasyarakat, perempuan tidak memiliki kuasa apapun. Bahkan ketika masa haid dan nifas, mereka harus mengasingkan diri dari masyarakat

Sekat-sekat seksis dan pandangan patriarki membuat perempuan merasa peran dan ranahnya terbatasi. Keterbatasan ini membuat mereka merasa kemampuannya tidak tereksplor, jadilah kaum hawa selalu hidup di bawah ketiak bani adam.

Kaum feminis berlogika, jika lelaki bisa bekerja di ranah publik maka perempuan juga bisa. Jika lelaki bisa jadi kepala rumah tangga hingga pemimpin negara, perempuan mengapa tidak? Jika lelaki bisa berpakaian seenaknya, perempuan pun harus bisa.

Ketika perempuan masih mengalami permasalah pelecehan, pemerkosaan, penyiksaan hingga penjualan. Kaum feminis menunjuk lelaki sebagai aktor utamanya. Hal ini karena mereka memandang lelaki dan perempuan dalam pandangan yang kompetitif. Logikanya, ketika kekuatannya setara, maka lelaki akan sulit menindas perempuan.

Menyikapi hal ini, perlu kiranya untuk mengkaji beberapa asumsi-asumsi kaum feminis seputar perempuan, dan meluruskan kekeliruan yang sering mereka opinikan ketengah-tengah masyarakat.

1. Perempuan harus sama sejajar dengan pria

Konsep Keadilan Kesetaraan Gender 50/50 menurut UNDP menyatakan bahwa idealnya pria dan wanita harus meraih tingkat kesehatan, pendidikan, pendapatan dan partisipasi politik yang sama. Pandangan ini berdasarkan pemahaman bahwa pria dan wanita memiliki kapasitas, kebutuhan dan kesukaan yang sama.

Konsep gender menafikan naluri dan hanya menerima kesamaan potensi akal dan kebutuhan jasmani. Perbedaan pria dan wanita menurut konsep gender secara alami hanya terletak pada alat reproduksi semata. Asumsi ini pun dapat dibantah. Jika konsep gender menerima perbedaan secara fisik pria dan wanita, mengapa mereka tidak menerima adanya perbedaan sistem hormonal pria dan wanita yang juga bersifat fisik?

2. Perempuan harus mandiri ekonomi

Kelompok feminis sering mengangkat opini tentang wanita bekerja di luar rumah, suami tidak boleh melarangnya (padahal dalam Islam, Allah memberikan wewenang kepada suami untuk mengizinkan istri bekerja atau tidak).

Mereka mengemasnya dengan 'lipstik' kemandirian ekonomi, padahal yang diinginkan sebenarnya pemindahan posisi kepala keluarga dari tangan suami ke tangan istri. Diawali dengan Istri mandiri secara nafkah karena bekerja dan tidak lagi tergantung pada suami, kemudian leluasa mengambil keputusan untuk dirinya dan keluarganya.

Dari sini para istri akan digiring menjadi kepala keluarga. Ini jelas bertentangan dengan ajaran Islam, ajaran Allah dan Rasul Nya. Saat para istri sibuk bekerja, tanggung jawab utama yang Allah dan Rasul Nya bebankan--yaitu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, mengurus anak-anak dan melayani suami--akan berantakan.

Dampak yang bisa ditebak adalah peningkatan angka perceraian, pelacuran merajalela dan anak-anak Muslim terlantar dari pengasuhan ibunya. Dampak akhirnya adalah kehancuran keluarga dan generasi.

3. Perempuan bebas berekspresi

Kemandirian perempuan dalam ekonomi, sekaligus dukungan terhadap kesehatan reproduksinya, secara bertahap akan membuat perempuan tidak lagi mementingkan institusi keluarga.

Di negara-negara pelopor kebebasan perempuan seperti Amerika, single parent banyak menjadi pilihan para perempuan yang berkarir. Pernikahan tidak lagi penting. Seks bebas menjadi solusi hak reproduksi perempuan.

Tidak dipungkiri, persoalan hidup saat ini terasa semakin menghimpit. Tanpa terkecuali persoalan yang menimpa kaum perempuan. Sebenarnya, secara naluri tuntutan kaum hawa tidaklah neko-neko. Kaum perempuan hanya ingin hidup layak dan bahagia sebagai manusia. Dihargai, dimengerti, disayangi, dimuliakan, dan dihormati. Demikianlah fitrahnya. Jika itu semua telah didapatkan, maka dunia damai bagi perempuan.

Sayangnya, fitrah suci tersebut disabotase oleh kaum feminis yang lahir dari kelamnya peradaban Barat. Para feminis ini melontarkan berbagai argumen yang seolah layak dijadikan harapan. Padahal, apa yang mereka jajakan tidak lain adalah paham sekuler dan liberal. Paham yang sejatinya menjadi sumber penderitaan bagi kehidupan juga bagi perempuan.

Jika sudah seperti ini, wajar saja para perempuan berlomba mengejar prestise. Seolah bangga, kaum hawa unjuk kekuatan bahwa mereka juga bisa melakukan apa yang laki-laki lakukan. Tanpa sadar, yang demikian itu justru telah menariknya dari kodrat mulia sebagai wanita. Tidak dapat dielakkan, perceraian pun melonjak setiap tahunnya. Urusan domestik dipandang sebelah mata. Anak-anak yang terlahir dari rahimnya, hampir tidak pernah berada dalam pengawasan dan penjagaannya secara utuh. Tunas-tunas penerus peradaban pun tumbuh dalam kegamangan. Berkembang dalam kepungan kebebasan. Berakhir pada kehancuran. Inikah yang disebut kebahagiaan?!  Sungguh mengerikan!

Kemulian untuk Kaum Perempuan

Perempuan diciptakan penuh keindahan. Mengalirkan nafas harapan bagi masa depan kehidupan. Hadirnya bukan untuk menyaingi, tapi lebih untuk membersamai kaum lelaki. Keduanya memiliki garis fitrah yang berbeda. Bukan hanya fisik, tapi juga psikologi. Karena itu, sudah pasti berbeda peran keduanya  dalam kehidupan. Namun sekali lagi, hal ini bukan berarti diskriminasi. Tepatnya, ini adalah harmonisasi yang dirancang apik oleh Illahi. Islam memuliakan wanita dengan memberikan peran utama dibidang domestic, jika lelaki bisa menjadi kepala negara, maka wanita lah yang mendidik, mengajarkan leadership kepada calon kepala negara.

Allah SWT. yang maha menciptakan sekaligus maha menitahkan aturan telah menggariskan hal yang demikian. Bahwa ada hak atau kewajiban tertentu bagi perempuan yang itu tidak berlaku bagi laki-laki. Demikian pula sebaliknya. Sebagai contoh, fitrahnya perempuan dapat melahirkan dan menyusui. Sedangkan laki-laki tidak. Demikian pula laki-laki berkewajiban mencari nafkah, sedangkan bagi perempuan sebatas mubah. Perhatikan, betapa zalimnya jika hak dan kewajiban harus dipandang sama rata antara laki-laki dan perempuan. Mendorong kaum perempuan untuk  mengangkangi  ranahnya laki-laki, sama artinya memaksa ikan berenang di padang sahara. Mustahil ada kemaslahatan!

Perempuan adalah kehormatan yang wajib dijaga. Makhluk berhati lembut ini memiliki kedudukan yang mulia. Bahkan perempuan, digadang-gadang sebagai juru kunci yang akan menentukan warna dunia. Demikianlah pandangan Islam bagi perempuan. Allah SWT. menggariskan kaum hawa sebagai penentu peradaban. Kewajiban yang tersemat bagi seorang wanita, alumm wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga) dan ummu ajyal (ibu generasi) yang dijalankannya  dalam lingkup yang lebih strategis, berpadu dengan perannya sebagai da’iyah dan pengemban dakwah.

Karena itu, seorang perempuan dalam pandangan Islam harus dijaga kehormatannya. Dijamin pendidikannya, kebutuhannya, bahkan kebahagiaannya agar kewajiban yang ada di pundaknya dapat terwujud sempurna. Penjagaan dan penjaminan yang baik bagi seorang perempuan, akan melahirkan generasi-generasi cemerlang. Generasi kuat, cerdas, beriman, dan bertakwa yang akan mengukir peradaban agung. Peradaban yang memanusiakan manusia tanpa mempermasalahkan gendernya.

Inilah puncak kebahagian dan kemuliaan hakiki bagi perempuan: menjadi tonggak peradaban! Melahirkan dan mempersiapkan generasi terbaik untuk masa depan. Hal ini tentu tidak akan terwujud dalam kubangan sekulerisme dan liberalisme. Oleh karena itu, sudah saatnya perempuan bangkit dan mencampakkan jargon-jargon feminisme yang menyesatkan. Sekarang masanya, kaum perempuan menentukan jalan kehidupan sesuai aturan-Nya. Agar tidak larut dalam pusaran derita akibat hawa nafsu yang jumawa. Lebih dari itu, agar kaum perempuan dapat mereguk manisnya kemuliaan sebagai tonggak dari peradaban. 

Wallahu a’lam.
Share on Google Plus

About Muhammad Sabran

0 komentar:

Posting Komentar