Dengarkan, Bukan Mengajari Ghibah⁣

*Dengarkan, Bukan Mengajari Ghibah⁣*
Oleh : Ustaz Muhammad Fauzhil Adhim

Banyak cerita yang kerap dibawa anak setiap kali mereka pulang; dari bermain dekat rumah, pulang sekolah atau dari tempat lainnya. Anak cenderung antusias bercerita kepada orangtua, kecuali jika ia tidak dekat dengan mereka. Cerita bisa berkaitan dengan pengalaman pribadi, bisa juga menceritakan yang ia dengar dari temannya. Boleh jadi, dari sinilah anak belajar menyebar kabar tidak jelas. Anak pun dapat belajar ghibah alias menggunjing.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Apa yang perlu kita lakukan? Dengarkan dengan baik. Tunjukkan sikap responsif. Kita menanggapi cerita mereka dengan antusias, tapi tidak serta-merta membenarkan cerita mereka. Mengenai cerita anak tentang diri sendiri, beri umpan balik. Bukan hanya mengiyakan. Ini bermanfaat untuk menjaga mereka dari dusta.⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Adapun jika anak menceritakan keburukan orang lain, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. Pertama, tetap dengarkan dengan baik sebelum menanggapi. Mendengarkan dengan baik itu bukan berarti mendengarkan sampai anak tuntas bercerita, melainkan kita seksama mendengarkan sehingga anak merasa bahwa pertanyaan kita bukan karena enggan mendengarkan. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Kedua, kita menanyai anak tanpa memojokkan darimana ia memperoleh berita, siapa yang menceritakan kepadanya, apakah yang menceritakan kepadanya mengetahui sendiri tersebut. Sesudah bertanya dalam suasana nyaman, kita teguhkan dengan nasehat agar berhati-hati mengambil berita. Ketiga, kita menguatkan dengan bertanya apakah ia mengerti orang yang diceritakan. Ini kita iringi dengan penguatan agar senantiasa berprasangka baik kepada setiap mukmin dan menghindari prasangka buruk. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Keempat, kita memberi umpan balik dengan menanyakan nilai kebenaran berita jika cerita anak berlanjut. Ini pun tetap perlu kita lakukan tanpa menjatuhkan harga diri anak. Ingat, anak masih tahap belajar. Kita perlu mengetati seiring dengan bertambahnya usia mereka sehingga ketika telah mukallaf, mereka benar-benar dapat bertanggung-jawab terhadap setiap perkataan. Kelima, kita kuatkan dengan nasehat-nasehat yang disertai perintah dan larangan. Untuk itu kita perlu memahami kaidah memerintah dan melarang dalam agama. ⁣
⁣⁣⁣
Wallahu a’lam bish-shawab.⁣
Share on Google Plus

About muhammad sabran

0 comments:

Posting Komentar