DO NOT MISS

Inspirasi dan Motivasi

My Diary

Training Motivasi : Membangun Karakter Anak Bangsa

Workshop Public Speaking

Kamis, 23 Maret 2017

5 ALASAN MENGAPA KITA HARUS MEMBICARAKAN KHILAFAH

Tulisan ini saya copy dari Instagram Ust Zamroni Ahmad
 
KHILAFAH kini sudah bukan sesuatu yang asing lagi di pendengaran kita. Bahkan, saat ini semakin banyak umat Islam di seluruh dunia yang menginginkan kembalinya Khilafah dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat penting untuk diperjuangkan.
 
Suatu survei terbaru dari kaum Muslim terkemuka di Inggris mendapatkan bahwa 69% dari mereka menganggap bahwa “Khilafah yang lurus adalah pemerintahan Islam yang ideal bagi semua orang”. Survei yang sama menunjukkan bahwa 94% menganggap bahwa “ISIS tidak mewakili komunitas arus utama Muslim dan merupakan suatu negara Islam yang tidak sah”. Adapun hasil survey yang dirilis pada 2013 lalu yang dilakukan oleh Pew Research Center - sebuah lembaga survey rujukan pemerintah AS - tentang penerapan syariah, menunjukkan bahwa 72% Muslim Indonesia menginginkan syariah sebagai landasan hukum dalam bernegara. Di negeri-negeri Muslim yang lain juga relatif sama : di Mesir 74%, Nigeria 71%, Palestina 89%, dsb. Tentu angka-angka itu berubah secara dinamis mengikuti dinamika masyarakat.
 
Khilafah sudah sepantasnya menjadi opini umum di tengah-tengah kaum Muslim. Dimana tidak ada yang menjadi bahan pembicaraan di setiap rumah, kecuali Khilafah. Dan ada lima alasan mengapa kita harus membicarakan Khilafah.
 
*PERTAMA, Khilafah adalah kewajiban di dalam Islam berdasarkan dalil-dalil syari, yaitu al-Qur'an, as-Sunnah, dan Ijma' Shahabat.* Dalil al-Qur'an antara lain firman Allah SWT dalam QS.an-Nisa ayat 59 yang artinya "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta ulil amri di antara kalian." Ayat ini memerintahkan kaum Muslim untuk mentaati ulil amri di antara mereka. Perintah untuk mentaati ulil amri ini sekaligus menjadi dalil tentang kewajiban mengangkat ulil amri. Pasalnya, tak mungkin Allah SWT memerintahkan umat Islam untuk mentaati sesuatu yang tidak ada. Jadi, ayat ini menunjukkan bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) sebagai ulil amri bagi umat Islam adalah wajib.
 
Dalil al-Qur'an lainnya adalah firman Allah SWT dalam surat al-Maidah ayat 48 yang artinya, "Putuskanlah perkara mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu." Dengan ayat ini Allah memerintahkan Rasulullah saw. memberikan keputusan hukum di antara kaum Muslimin dengan wahyu yang telah Allah turunkan, yakni syariah Islam. Perintah ini pada hakikatnya merupakan perintah kepada umatnya sampai akhir zaman selama tidak ada dalil yang mengkhususkan perintah itu hanya kepada Rasulullah saw. saja. Umat ini diwajibkan oleh Allah SWT untuk menegakkan syariah Islam. Hanya saja perintah untuk menegakkan syariah Islam tidak akan bisa dilaksanakan secara sempurna kecuali dengan adanya seorang imam (khalifah). Dengan demikian ayat di atas dan juga seluruh ayat yang memerintahkan berhukum dengan wahyu yang telah Allah turunkan hakikatnya adalah dalil atas kewajiban mengangkat seorang imam (khalifah) yang akan menegakkan syariah Islam itu.
 
Adapun dalil as-Sunnah banyak, antara lain Rasulullah saw. bersabda "Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada imam/khalifah), maka matinya adalah mati jahiliyah (HR.Muslim).
 
Hadits ini menunjukkan bahwa jika seorang Muslim disebut mati jahiliyah (mati dalam keadaan berdosa) karena tidak berbaiat, berarti baiat itu wajib hukumnya. Padahal baiat itu tidak diberikan kecuali kepada seorang imam (khalifah). Jelas, hadits ini menunjukkan bahwa mengangkat seorang khalifah itu wajib hukumnya.
 
Adapun dalil Ijmak Shahabat telah disebutkan para ulama. Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Ash-Shaw'iq al-Muhriqah menyatakan bahwa para shahabat telah bersepakat bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib; bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban paling penting ketika mereka menyibukkan diri dengan kewajiban itu dengan menunda kewajiban menguburkan jenazah Rasulullah saw.
 
*KEDUA, masih ada umat yang belum paham atau salah paham tentang ide syariah dan Khilafah Ada yang menganggap Khilafah sebagai tanggung jawab manusia untuk menjaga bumi ini, tidak ada kaitannya dengan kekuasaan dan pemerintahan. Ada juga yang menganggap syariah dan Khilafah sebagai sesuatu yang menakutkan, menghambat kemajuan dan sebagainya. Fenomena ISIS pun telah membuat orang semakin takut terhadap Khilafah. Karena itu penting sekali memahamkan atau meluruskan pemahaman mereka secara terus-menerus.
 
*KETIGA, sebagian besar kewajiban di dalam Islam - seperti menyejahterakan rakyat; mewujudkan keadilan ekonomi, politik, sosial dan hukum; perlindungan terhadap aqidah, harta, kehormatan, keturunan dan keamanan; mempersatukan umat; serta mengemban dakwah ke seluruh penjuru dunia dan lainnya - semua itu berpangkal pada tegaknya syariah dan Khilafah.* Artinya, selama syariah tidak diterapkan dan Khilafah tidak ditegakkan, semua kewajiban itu tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik. Begitupun dengan Islam rahmatan lil'alamin hanya bisa diwujudkan ketika Islam diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
 
*KEEMPAT, saat ini umat Islam tengah menghadapi berbagai masalah.* Secara politik, umat Islam di seluruh dunia yang berjumlah lebih dari 1,6 miliar yang mestinya bersatu justru tercerai-berai. Akibatnya, umat tidak memiliki kekuatan  untuk melindungi diri dari berbagai makar yang dilakukan musuh-musuh Islam. Apa yang saat ini tengah terjadi di Palestina, Suriah, Rohingya dan negeri ini, membuktikan hal itu.
 
Secara ekonomi pun, negeri-negeri Islam yyang kaya akan sumber daya alamnya justru rakyatnya mengalami kemiskinan. Hal ini sebagai akibat diterapkannya sistem kapitalisme yang menjadikan negara-negara Barat imperialisme bisa menguasai dan menyedot SDA negara-negara Muslim, sejak syariah dan Khilafah tidak lagi ditegakkan.
 
Adanya Khilafah diperlukan untuk menyatukan Dunia Islam yang akan membentuk kekuatan umat. Dengan kekuatan itu kita bisa melindungi harta, jiwa, dan kehormatan umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
 
*KELIMA, kecenderungan umat untuk membela Islam semakin menguat.* Saat ini kecintaan umat Islam kepada al-Qur'an, Rasulullah saw. dan ajaran Islam begitu mendalam. Pembelaan umat Islam terhadap berbagai penghinaan kepada al-Qur'an dan Rasulullah saw. di seluruh dunia pun bisa kita saksikan di media massa. Ribuan bahkan ratusan ribu turun ke jalan untuk membela Islam.
 
Di Indonesia sendiri, fenomena Aksi Bela Islam 411 dan 212 merupakan fenomena yang belum tercatat dalam sejarah sebelumnya. Jutaan orang datang  berbondong-bondong dari berbagai daerah di Indonesia ke ibukota dengan pengorbanan yang luar biasa untuk membela Islam. Ini bukanlah sesuatu yang sia-sia sebagaimana pendapat sebagian orang. Ini hanyalah awal dalam proses menuju persatuan umat Islam di bawah Khilafah.
 
2. Al-Waie No.199, 5-31 Maret 2017
#IndonesiaMoveUp
#IslamRahmatanLilAlamin
#KhilafahWillRiseAgain

Minggu, 19 Maret 2017

Rintik-rintik Air Mata, Sepanjang Perjalanan Itu

Jika engkau senang dalam kebersamaan, maka bersiaplah berjumpa dengan perpisahan. Jangan terlalu terlena dengan kebahagiaan, sebab suatu kali kesedihan akan datang menyapa. Semua, di dunia ini, telah Allah pergilirkan. Susah-senang. Perjumpaan-perpisahaan. Pada bagian ini, saya akan berbagi tentang kisah datangnya kabar duka itu. Kabar kalau ayahku sudah tiada. Bukan hendak membuka luka lama. Hanya ingin berbagi, betapa perihnya berpisah dengan orang yang kita cinta. Maka, untuk sahabat yang masih membersamai ayah, hormati dan berbaktilah padanya. Sebelum kita terpisahkan oleh ajal. Bila ada sahabat yang senasib denganku, sedih itu wajar. Fitrah anak yang kehilangan ayahnya memang begitu. Yang tidak wajar adalah terlalu lama larut dalam kesedihan. Di alam barzah sana, ayah tidak butuh kesedihan kita. Yang dibutuhkannya adalah kiriman doa dari anak-anak yang soleh, anak yang senantiasa taat terhadap perintah dan larangan Allah SWT.
Kamis, 31 Maret 2011. Pukul 11.30 air mata duka mengalir sudah. Saat saya menerima telepon dari seorang sepupu. Namanya Sudi dari Mangkutana. Kabar duka yang dia sampaikan, ayah telah tiada. Saat itu mata menjadi sembab berair. Tak kuasa membendung derai air mata. Badan terasa lemas. Seolah tulang-tulang remuk semua. Emosi hati mulai berkecamuk. Serasa ingin menghantam kaca jendela. Ingin berteriak menghardik dunia. Rasanya tidak adil, Allah memanggil ayah begitu cepat. Dengan cara yang tiba-tiba pula.
Bersyukur diri masih bisa beristighfar. Memohon ampun kepada Allah, atas kelancangan yang baru saja diperbuat. Menenangkan gejolak jiwa. Membisiki diri, bahwa inilah takdir. Ikhlas menerimanya adalah pahala. Bila tidak ikhlas, itu dosa. Pelan-pelan, saya mulai bisa menerima semuanya. Itu bukan berarti masalah selesai. Justru masalah yang lebih besar baru datang menyapa. Bagaimana hendak saya katakan kepada ibu? Kalau orang terkasih yang telah menemani hidupnya puluhan tahun, telah tiada. Wafat secara tiba-tiba. Ini perkara yang belum bisa saya temukan jalan keluarnya. Bertepatan saat itu ibu ada di Makassar.
Kakakku di Jakarta saya hubungi. Adikku yang sementara mengikuti kegiatan kampus, saya suruh lekas ke tampatku. Harus segara menuju Mangkutana. Melihat ayah untuk terkahir kalinya. Tak seberapa lama adikku datang. Inilah saat-saat terberat. Bayangkan galaunyanya hati. Saat engkau harus menahan air mata, di hadapan ibu. Padahal hati teriris pedihnya sedih. Kami memandangi ibu tercinta. Dengan tak mengijinkan air mata untuk keluar walau setetes. Ibu jangan dulu tahu tentang berita duka ini. Lalu kapan? Ah nanti saja. Saya yakin, ada waktu yang tepat nantinya, menceritakan semuanya. Yang jelas bukan sekarang.
Saya mengajak ibu keluar rumah. Lalu memintanya untuk ikut menumpang taksi. Tanpa tanya, ibu menurut saja. Semua terjadi begitu cepat. Ibu tidak sempat membawa sehelai pakaianpun. Hanya apa yang melekat di tubuh. Mengenakan kerudung dan kaos kaki yang sempat beliau kenakan sebelum keluar rumah.
Di samping pak sopir, saya duduk memendam sedih yang semakin berkecamuk. Di kursi belakang, ada ibu dan adikku.
“Pak, berapa kalau kita ke Mangkutana?” Tanyaku kepada sopir yang langsung kebingungan lagi terkejut. Siapa yang tidak kaget, ada penumpang yang ingin ke Mangkutana. Seperti yang pernah kita singgung sebelumnya, Makassar-Mangkutana itu sekitar 400-an km.
“Wah dek, jauh sekali,” jawab sang sopir, “tapi kalau mau ke sana,kita harus ke kantor dulu ambil surat jalan. Ongkosnya sekitar 2 jutaan.”
Dalam keadaan panik dan sedih, orang seperti terhipnotis. Tidak perduli lagi dengan uang. Berapapun akan dibayar, asal lekas sampai di Mangkutana. Syukurlah, Allah masih memberikan ijin nalar logis untuk melintas. Kalau menggunakan taksi pengurusannya akan lama. Sudah itu mahal pula.
“Kalau begitu saya turun di Daya saja Pak. Dekat patung ayam.” Daya adalah tempat mangkal mobil-mobil yang biasa menuju daerah. Harapanku ada mobil yang bisa dicarter langsung ke Mangkutana. Dan semoga ongkosnya lebih murah. Mobil-mobil daerah pun terkenal dengan kecepatannya.
Turun dari taksi, tiga orang datang menghampiri. Tak perlu pikir panjang. Negosiasipun saya lakukan. waktu terus berdetak. Kalau kami tidak cepat, akan ketinggalan. Dan kesepakatan pun tercapai. Harga sampai ke Mangkutana Rp 1,1 juta untuk tiga orang. Padahal ongkos normalnya hanya kisaran Rp 95 ribu – 100 ribu perorang. Ah, sekarang bukan waktunya untuk pikirkan untung rugi. Kalau pun sang sopir menawarkan harga yang lebih tinggi, akan kami ambil. Pokoknya harus cepat sampai ke Mangkutana. Inilah kekuatan cinta. Kalau sudah cinta yang bicara, terkadang harta tak lagi dipandang. Apalagi perkara cinta anak kepada ayahnya.
Dari rumah sampai sekarang, ibu hanya diam. Tidak pernah bertanya, ada apa gerangan yang terjadi. Kami mencoba menghibur ibu. Walau hati pedih, seperti diiris-iris sedih. Mobil melaju dan pikiranku pun melayang. Merenungi dan mensyukuri, saya masih bisa tenang dalam kondisi seperti ini. Tenang bukang berarti tidak bersedih. Tapi ketenangan dalam makna kesabaran. Bahkan mampu menyembunyikan kesedihan. Semua ini adalah hasil dari tuntasnya kita memahami qadha dan qadar dari Allah. Kepergian Allah, sudah qadha (ketentuan) Allah. Ini masuk dalam perkara yang tidak dikuasai manusia. Kita tidak bisa memilih. Andai bisa memilih, maka saya akan memilih untuk terus bersama ayah. Atau saya ingin memilih, biarlah nyawa saya yang diambil, jangan ayah. Tapi tidak bisa begitu. Untuk perkara qadha, kita dituntut untuk ikhlas menerima. Semua konsep kehidupan ini, saya dapatkan saat halqah. Halqah? Ya pertemua sekali sepekan untuk mengkaji ilmu-ilmu Islam di Hizbut Tahrir Indonesia.
Sesekali, saya melirik ke cermin mobil. Ada pantulan bayangan ibu yang hanya diam. Dan adikku yang sedari tadi berteman dengan telepon genggamnya. Dia pasti lagi sibuk mewartakan kabar duka ini kepada para keluarga. Melihat mereka berdua, sembari ada gambaran wajah ayah yang selalu terbayang, membuat air mata tak mampu lagi dibendung. Walau ditahan sekuat yang saya bisa. Saya buka jaket dan menutup kepala. Berpura-pura terlelap tidur. Tapi sebenarnya, saya menangis sejadi-jadinya. Teringat wajah ayah, tiga hari yang lalu. Masih penuh dengan senyum. Saya tak ingin terus menangis. Karena di belakang sana, saya tidak ingin ibu tahu kalau saya sedang tersedu-sedu.
Beruntung, saya punya banyak sahabat. Sahabat sejati tentunya. Sahabat yang bersama dan setia memberi motivasi di saat sedih. Berdatangan sms dari mereka. Sahabat sepengajian, ustad-ustad yang membimbingku. Walau pesan mereka singkat, namun itu sangat berarti. Cukup untuk menenangkan perasaan. Bahkan dari teman-teman di beberapa organisasi di luar pulau Sulawesi. Semua mengucapkan turut berduka cita. Dan berpesan untuk selalu besabar. Ikhlas menerima takdir Allah. inilah indahnya persaudaraan di atas pondasi akidah Islam. Persaudaraan yang tulus murni.
Mobil melaju kencang. Seolah tak perduli dengan kesedihan penumpangnya. Tiada terasa, sudah sampai di penghujung Kota Barru. Senja mulai datang. Mentari telah tergelincir.
“Pak di depan sana, sebelum masuk Parepare ada SPBU. Tolong singgah dulu. Waktu Asar sudah tiba.” Pintaku kepada pak sopir.
Kami berempat turun, termasuk pak sopir, untuk melaksanakan salat. Mengambil air wudhu dan saya didaulat menjadi imam. Sungguh derai air mata tak tertahan. Baru mengucapkan takbir, Allahuakbar, runtuhlah bendungan air mata. Usai salat, aku berbalik mencium ibu. Lalu terlintas pikiran, inilah saat terbaik untuk mengatakan segalanya kepada ibu. Sehabis salat adalah kondisi diri yang paling tenang dan sejuk. Semoga dengan begitu, ibu siap mendengar segalanya.
“Ya Allah, berikan kekuatan untuk menyampaikan kepada ibu apa sebenarnya yang terjadi.” Isi pintaku kepada Allah, sebelum berbicara kepada ibu. Saya kembali memeluk, lalu mencium ibu, dan berkata, “Sabar ki nah! Ibu sabar ya!” Ibu merasa bingung. Ibu memang selalu bersabar, sangat bersabar. Tapi apa sebenarnya yang terjadi? Sekarang di hati ibu ada sejuta tanya yang tak terjawab.
“Ibu, saya ingin menyampaikan, mengapa ibu saya bawa secara tiba-tiba. Karena…” sampai pada kalimat ini, saya tidak sanggup lagi untuk melanjutkan. Tidak kuasa mengatakan kabar duka. Lidah terasa keluh. Mata hanya ingin terus menangis. Aku mendekap ibu. Lalu membulatkan hati, bahwa semua harus saya tuturkan. “Ibu sabar ya. Ayah sudah tiada. Ayah sudah meninggal ibu…ibu…” Kesedihan, air mata, juga kepedihan semuanya mencapai puncak waktu itu. Tangisku, disusul oleh tangis ibu dan adikku.
Dari kejauhan, pak sopir sudah membunyikan klakson. Memberi tanda bahwa kita harus segera berangkat. Perjalanan masih sangat jauh. Belum ada setengahnya. Bergegas kami menuju mobil. Dengan sisa-sisa air mata yang masih ada.
Kepada pak sopir saya mulai bercerita. Tentang alasan menyuruhnya memacu mobil lebih kencang. Itulah sebab, mobilnya saya carter dan tak boleh mengambil penumpang lain. Pokoknya harus terus melaju. Bila boleh tidak perlu berhenti, kecuali sesampainya nanti di Mangkutana. Sesekali saya melirik ke belakang. Di sana ada adik dan ibuku, yang masih berurai air mata. Wanita mana yang tidak bersedih, ditinggal ayah tercinta secara tiba-tiba. Perempuan mana yang tak berduka, berpisah dengan suami tercinta untuk selamanya, setelah puluhan tahun bersama. Harus saya akui, adikku memang luar biasa. Tak jemu-jemu menenangkan ibu. “Sabar bu, ini sudah takdir.” Itu kalimat penenang yang selalu adikku katakana kepada ibu.
Selentingan protes ibu layangkan, “Mengapa ibu tidak diberi tahu sejak di Makassar?”
Saya dan adikku punya alasan kuat. Mengapa baru sekarang mengatakannya. Kami begitu dekat dengan ibu. Kami sungguh mengetahui karakter dirinya. ibu begitu mencintai ayah. Bila berita duka yang mendadak ini diberi tahu sejak di Makassar, boleh jadi ibu bisa pingsan. Atau paling tidak akan terus menangis sejak di Makassar sampai Mangkutana. Niatku memang akan bercerita tentang semuanya, selepas salat. Dan waktu itu bertepatan saat hendak memasuki gerbang Kota Parepare.
Sepanjang perjalanan, sepanjang itu pula saya terbayang akan wajah ayah. Senyumnya, masih begitu jelas teringat. Senyum yang tak akan pernah lagi saya lihat. Kupejamkan mata, dari dalam hati ada doa berbisik:
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya kepunyaan-Mu Ya Allah
Allah, ampuni dosa serta khilafku
Selama ini, aku senantiasa menaati perintah-Mu
Memantangkan diri akan larangan-Mu
Selama ini,hamba juga selalu berusaha ikhlas
Menyampaikan, mendakwahkan Islam
Memperjuangkan tegaknya Islam
Allah, satu pintaku kepada-Mu
Agar ayah dapat hidup kembali
Ya, hidupkan Ayah kembali, Allah…

Doa ini memang lancang. Begitulah manusia. Saat tak tahu harus berbuat apa, sesuatu yang tidak logis pun diminta. Tidak ada yang kuasa menghidupkan orang mati. Kecuali Nabi Isa yang telah Allah beri mukjizat. Istighfar berkali-kali terucap. Menginsafi sikap diri yang sempat tidak ikhlas.
Sekitar 12 jam lebih menyusuri jalan Makassar – Mangkutana. Dini hari pukul 01.30 kami tiba di rumah duka. Di rumah saudara kandung ayah. Di depan rumah sudah ramai orang berkumpul. Bergegas saya memasuki rumah. Dan semuanya adalah benar. Jasad ayah sudah terbaring lemah. Tubuh yang masih tampak kekar tiga hari yang lalu, kini terbujur kaku. Sang sopir perkasa, sang guru segala makna kehidupan itu, telah tiada. Melihat jasad ayah, semua kenangan kembali diputar. Banyak pertanyaan yang beliau lontarkan kepada saya beberapa hari yang lalu diantaranya nak kapan kamu menikah? Dan menyelesaikan studimu?. Pertanyaan yang mungkin sebenarnya adalah harapannya kepadaku, yang belum sempat terwujud. Ayah, belum sempurna bakti ini kepadamu, namun dirimu telah melambaikan salam perpisahan untuk selamanya.
Hari sudah larut malam, menjelang subuh. Kami memutuskan untuk mengebumikan ayah, di kala siang saja. Saya, ibu juga adikku hanya bisa menangis di sisi ayah yang tak akan pernah berdaya lagi. Membaca Quran, melantunkan doa-doa. Sesekali aku tatap wajahnya. Sepasang matanya kini terpejam damai. Kuciumi wajah beliau yang sudah terasa dingin. Tidur di sisinya, menanti fajar tiba.
Waktu berlalu begitu cepat. Andai ada kuasa menghentingkan perputaran masa, akan saya hentikan waktu ini. Subuh telah tiba. Ini waktunya untuk memandikan ayah. Saya, adik serta kakak mengalirkan segayung demi segayung air ke tubuh beliau. Lalu dikafani. Dibawa ke masjid untuk disalati. Jenazah dibawa ke tempat pemakaman dengan berjalan kaki saja. Kurang lebih 500 meter jaraknya. Sepanjang jalan, doa terus terucap, semoga segala karya yang beliau telah tunaikan diterima di sisi Allah.
Ayah, bagaimana kabarmu kini? Ananda hanya bisa berdoa, semoga kuburmu dilapangkan. Dan dicahayai oleh sinaran amal solehmu. Kami anak-anakmu,menjadi saksi atas segala baktimu di dunia. Semoga kelak, Allah telah siapkan satu tempat di surga untuk ayah. Amin…(MS)

Jelang Ayah Pergi

Pada tulisan sebelumnya, pernah terkisah, saat ayah mengundurkan diri dari perusahaan. Sebab batang usia yang kian meninggi. Inilah fitrah, tidak ada yang bisa lepas darinya. Rasulullah pernah berpesan, bahwa manusia boleh saja lolos dari sebab-sebab kemantian. Tapi ada satu sebab yang tiada orang mampu menghindarinya Itulah hari tua.
Resmi ayah mengundurkan diri pada anggal 1 Maret 2011. Surat pengunduran dirinya diterima oleh PT. Sinar Kumala Naga dengan No.037/Prs-SKN/03/2011. Mengundurkan diri dari kerja, ukan berarti berhenti bekerja. Justru inilah titik awal ayah, memulai kerjanya yang baru. Selepas mengundurkan diri, ayah lekas menuju Kotabaru. Maksud diri ingin bertemu kakak iparku, Budiman. Budiman akan membantu modal untuk usaha ayah. Sekaligus melepas rindu dengan cucu-cucunya. Di Kotabaru hanya bebearpa hari. Lalu bertolak menuju Makassar, bersama ibu. Tanggal 26 Maret 2011, bertolak dari Kotabaru. Sampai di Makassar tanggal 27 Maret 2011, sore harinya. Ayah tidak sendiri. Selain bersama kekasih tercinta (ibu), para cucu pun turut serta. Bertepatan hari libur waktu itu. Begitu berkesan saat-saat bersama ayah. Sampai tanggal-tanggalnya, masih jelas terhapal. Tidak pernah ada yang tahu, apalagi menyangka, kalau ini adalah detik-detik terakhir kebersamaanku dengan ayah.
Setiba ayah di Makassar, menjadi kesempatanku juga adikku untuk melepas rindu dengannya. Sempat saya mengambil foto ayah. Kemudian memasukkannya di laptop. Adikku sempat berkata, “Wah ayah gagah sekali.” Ayah, yang dipuji, hanya senyum-senyum kecil. Ayah mana yang tak senang lagi bangga, dipuji gagah oleh anak tercinta.
Makassar, sebenarnya sekadar tempat persinggahan saja. Ayah harus melanjutkan perjalanan, ke tujuan sebenarnya. Sekitar 400-an km dari Kota Makassar. Ayah hendak menuju Mangkutana. Di sana, beliau ingin mewujudkan mimpinya. Menjadi peternak ayam petelur. Sampai di Mangkutana, subuh hari. Saat pagi tiba, ayah dan para cucunya, sudah ada di kandang ayam. Ada ribuan ekor ayam petelur di sana. Andai ayah berumur panjang, bisnis ini yang akan beliau geluti. Dari sopir menjadi peternak.
Dari Mangkutana, rombongan ayah berpindah ke Malili. Kalau sekarang bukan dalam rangka bisnis. Ke Malili adalah untuk maksud silaturahim. Di sana ada besan ayah. Setelah lepas kangen dengan besannya, ayah kembali ke Mangkutana. Saatnya beristirahat, setelah melalui penat perjalanan seharian. Rabu, 30 Maret 2011, lelah letih terlepas sudah. Sekarang waktunya untuk menimba ilmu dari suami adik kandungnya yang sudah lebih dulu beternak ayam petelur. Bisnis tanpa ilmu, itu bunuh diri namanya. Beliau belajar banyak hal. Dan tampak semakin mantap untuk menjelajahi bisnis barunya.
Manusia boleh berencana. Tapi Allah penentu segalanya. Belum lagi melihat ayamnya bertelur, ayah sudah tutup usia (Kamis 31 Maret 2011). Ya, begitu ajal. Rahasia Allah. Datangnya adalah pasti. Namun tak seorang pun yang tahu kapan ajal datang menjemput. Ajal, tak bisa ditunda atau dipercepat walau itu hanya sedetik. Ada yang didahului dengan pertanda sakit. Ada pula yang tiba-tiba. Masih terlihat sehat bugar hari ini. Ternyata esok siang sudah tinggalkan dunia. Begitulah yang berlaku pada ayah. Semua terjadi tiba-tiba. Seperti kata pepatah, tak ada guntur, tak ada mendung, tiba-tiba hujan deras datang tanpa permisi.
Allah juga telah mengigatkan kita melalui Firman-Nya :
"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (QS. Al A'raf: 34)
Ajal, sebenarnya bukan kuasa manusia. Jadi tidak perlu ditakuti. Jangan risau akan mati. Takut atau berani, maut akan datang menjemput bila telah tiba masanya. Tugas kita adalah mempersiapkan diri. Agar saat maut datang hendak menutup usia, kita dalam keadaan siaga. Syukur-syukur jika dalam ketaatan kepada Allah. Sungguh sial rasanya, bagi mereka yang kala maut datang menjemput, ternyata sementara bermaksiat. Hari kamis, tepatnya pukul 11.00, ayah pergi. Meninggalkan sejuta kenangan dan pelajaran. Selamat jalan ayah. (MS)

Jumat, 17 Maret 2017

Hadiah Terakhir Menuju Detik Perpisahan

“Ini hadiah untukmu dan adikmu. Masing-masing dapat empat lembar.” Kata ayah. Dan itu ternyata pemberian terkahirnya.”

Jika ingin cinta itu tumbuh, maka saling memberi hadiahlah. Ini kebiasaan yang sering ayah contohkan kepada anak-anaknya. Hadiah diberikan dengan kejutan, menambah seru suasana. Ayah selalu hadir dengan hadiah yang berarti dan memang dibutuhkan anaknya. Saat melihat sepatu anak-anaknya sudah mulai rusak, ayah begitu peka. Tanpa diminta, di akhir bulan beliau akan datang dengan wajah berseri. Sembari membawa satu kotak kejutan. Wah ternyata di dalamnya ada sepatu baru. Inilah ayah. Peka terhadap kebutuhan anak-anaknya. Juga kalau hadir selalu membawa kejutan. Semoga ini ciri ayah yang berhasil. Kehadiran ayah selalu dinanti-nanti. Apalagi kalau di penghujung bulan atau baru gajian. Pasti ada kejutan. Ayah gagal adalah yang kehadirannya justru menjadi momok menakutkan bagi anak. Ah ayah, datang lagi-datang lagi. Lihat saja pasti marah-marah. Pasti suruh-suruh. Semoga kita tak pernah merasakan ini. Dan kelak, untuk yang akan menjadi orang tua, semoga tidak mengalami hal itu. Kehadirannya tidak dinanti oleh anaknya. Dirinya gagal menjadi orang tua yang dirindu.
Dari sekian banyak hadiah yang pernah ayah berikan, ada satu hadiah yang sangat berkesan. Apa sebabnya? Karena hadiah ini beliau berikan kepada kelima anaknya. Jumlahnya sama, hanya warna yang beda-beda. Semakin berkesan pemberian itu, karena diberikan beberapa hari sebelum beliau wafat. Barangnya memang sederhana. Namun pesan yang menyertai pemberian itu yang membuatnya menjadi luar biasa. Sambil memberi ayah berpesan, pesan yang tidak akan pernah saya lupa, “Ini Nak, hadiah dari ayah. Untukmu. Kakak dan adikmu masing-masing dapat empat lembar. Kalau bisa dipakai salat.” Setelah diberi, saya langsung berucap terima kasih dan memeluk erat ayah. Tak pernah terbesit dalam diri, kalau itu adalah pemberian terakhirnya. Dalam pesan beliau itu ada makna yang luar biasa. Seolah ingin mengingatkan anak-anaknya untuk tidak pernah melupakan salat. Dan jangan lupakan Allah. inilah sebaik-baik warisan ayah kepada anaknya.
Pesan untuk selalu bertakwa. Menyembah Allah dan tak pernah menduakan-Nya. Inilah pesan Lukman kepada anaknya. Begitu pentingnya pesan itu, sampai Allah mengabadikannya dalam Al-Quran:
“Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya; Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (TQS. Lukman: 13). (MS)

Kamis, 16 Maret 2017

Hikmah dibalik 3 Cerita

Kali ini saya ingin berbagi 3 cerita, kepada sidang pembaca sekalian. Silahkan dibaca dengan baik-baik dan kita ambil pelajaran (Hikmah) dibalik 3 kisah tersebut.

Cerita Pertama
Di sebuah Desa sudah lama, hujan tak pernah turun. Sehingga desa terasa mati, karena tanaman tak pernah tersirami air hujan, masyarakat banyak yang kekurangan air bersih. Bahkan sungai yang biasanya digunakan untuk mandi dan mencuci juga sudah mulai mengami kekeringan.

Maka Imam Desa meminta semua warga agar setiap selesai melaksanakan sholat wajib, agar memanjat doa kepada Allah SWT untuk meminta diturunkan hujan. Dan jum’at depan semua warga laki-laki diminta sholat jum’at dialun-alun desa sekaligus memanjatkan doa bersama untuk meminta hujan.

Hari Jum’at yang ditentukanpun tiba…
Semua warga laki-laki hadir, pemuda dan orang tua berbondong-bondong memenuhi alun-alun desa. Serta tidak ketinggalan anak-anak ikut meramaikan sholat jum’at dan memanjatkan Doa meminta hujan.

Tapi ada yang unik, dari sekian banyak orang yang hadir. Hanya Imam Desa yang membawa Payung. 

Cerita Kedua
Mungkin pembaca sekalian pernah merasakan seperti apa yang pernah saya rasakan. Dulu saat saya masih kecil, ayah saya biasa mengangkat dan melemparkanku keatas kemudian menangkapku kembali. Bahkan sayapun sekarang biasa melakukannya kepada kedua anakku, respon saya dan respon anakku tentulah sama. Sedikit tegang kemudian menarik napas dan tertawa bahagia. Sang anak tentu berani untuk dilempar keatas, karena ia percaya ayah akan menyambutnya kembali.
Cerita Ketiga
Kalau kita punya agenda penting dibesok hari, dan kita dituntut hadir pagi-pagi dan tepat waktu. Biasanya sebelum tidur malam, apa yang biasa kita lakukan?

Betul sekali Pasang Alram baik di Hp yang kita miliki maupun di jam. Agar kita dapat bangun tepat waktu dipagi hari. Walaupun tidak ada jaminan bahwa besok kita masih diberikan umur yang panjang oleh Allah SWT. Tapi minimal kita telah berusaha agar dapat bangun sesuai dengan jadwal yang kita inginkan.


Hikmah dibalik ketiga cerita tersebut adalah :

Hikmah cerita pertama Imam Desa membawa payung karena ia YAKIN Allah akan menurunkan hujan. Inilah yang harus kita miliki Yakin bahwa ketika kita taat kepada Allah SWT dan berdoa Kepada-NYA, yakinlah Doa kita akan diterima. #Keimanan

Hikmah cerita kedua adalah tentang Kepercayaan, sang anak sangat percaya ayahnya tidak akan menjatuhkannya. Bagaimana agar orang dapat percaya kepada kita, maka jangan pernah berbohong dan menghianati amanah yang orang berikan kepada kita. #Kepecayaan

Dan hikmah cerita ketiga adalah tentang Harapan, walaupun tidak ada jaminan besok kita masih hidup. Kita harus tetap optimis untuk menantap masa depan. Karena masalah Ajal memang rahasia Allah SWT. Jadi jangan pernah berputus asa.

Hormatku

+Muhammad Sabran  Ingin Ngobrol bersama saya Like Fans Page MS- Muhammad Sabran atau Follow Twitter @MuhammadSabran

Rabu, 15 Maret 2017

Ayah Serupa Nabi Yusuf?

Ayah itu mirip dengan Nabi Yusuf. Lelaki tergagah yang pernah Allah hadirkan di dunia. Sampai kini tak dan hingga kiamat nanti tidak ada yang menandingi kegagahan Nabi Yusuf. Apa betul ayah mirip dengan beliau? Ya, betul. Tidak percaya? Begini kisahnya.
 
Oh iya, tunggu dulu, jangan salah kaprah, kemiripan yang saya maksud, bukan dari raut wajah. Kalau dari ukuran wajah, ayah, saya dan sahabat sekalian kalah jauhlah dari Nabi Yusuf. Seganteng-gantengnya lelaki yang ada sekarang, belum ada yang seganteng Nabi Yusuf. Belum ada kegantengan yang kuasa membius wanita. Seperti yang dipunyai Nabi Yusuf. Wajahnya yang memesona membuat para wanita bangsawan terkesima. Sampai-sampai mereka tidak sadar telah mengiris-ngiris tangannya. Wah tidak terbayang, seperti apa kegantengan Nabi Yusuf.
Lalu bagian mana dari ayah yang mirip dengan Nabi Yusuf? Tentang godaan yang pernah dialaminya. Mahsyur sudah sebuah kisah, bahwa Nabi Yusuf pernah digoda oleh istri raja. Inilah godaan terberat untuk seorang lelaki. Didekati wanita yang jelita, kaya raya lagi berkuasa. Cobaan ini semakin berat, saat hati Nabi Yusuf pun memiliki keinginan kepada istri sang raja. Kalau yang datang wanita yang tidak kita suka, itu bukan godaan namanya. Gampang saja ditinggalkan. Tapi lain cerita kalau yang datang itu menggoda hati.
Mirip dengan Nabi Yusuf, ayah pernah mengalami hal yang mirip-mirip. Dan ini beliau rasa sebagai salah satu godaan terberat dalam hidupnya. Semua terjadi saat beliau masih menjadi sopir bus tujuan Ujung Pandang. Sesampai ditujuan, lumrahnya semua penumpang akan bergegas turun. Namun ada seorang penumpang wanita yang bergeming. Dia diam seribu bahasa tak juga turun. Parasnya, bolehlah dikatakan rupawan untuk ukuran gadis desa. Melihat ada satu penumpang yang tak kunjung turun, mengundang tanda tanya di hati ayah. Ayah mendekatinya.
“Maaf, kenapa belum turun?” Tanya ayah, sembari dada berdegup kencang. Normallah. Lelaki ketemu wanita, pasti terjadi sesuatu dalam hati masing-masing, apalagi buat laki-laki yang jarang berinteraksi dengan wanita (berdua-duaan saja).
Dengan gaya sedikit menggoda, entah apa maksudnya, sang wanita menjawab, “Saya tidak bisa bayar.”
Mendengar itu, ada rasa iba yang tumbuh di hati ayah. Siapa yang tak luluh hatinya, melihat seorang wanita sebatang kara, tak punya uang membayar ongkos bus. “Ya sudah. Saya mengerti. Biar nanti saya yang bayarkan. Gampang saja, dipotong dari gaji saya.” Ayah memberi solusi.
Masalah belum selesai. Justru di sinilah masalah sebenarnya baru terjadi. Wanita itu tak kunjung turun. Padahal sudah ditawari jalan keluar yang cukup memuaskan. Ayah langsung tersentak, ketika mendengarkan sebuah tawaran yang menggoda, bagi lelaki manapun. Menggoda namun menjerumuskan ke kubangan dosa. “Bagaimana jika saya ‘menemani’ bapak malam ini?”
Ah sahabat, anda semua tahu, apa makna “menemani” yang ditawarkan oleh wanita itu. Untunglah keimanan ayah tak goyah. “Maaf saya sudah beristri.” Ini jawaban ayah. Jawaban dari lelaki sejati. Entahlah apabila godaan ini berlaku pada kita. Kuatkah kita untuk mengatakan tidak? Dimana kondisi sangat memungkinkan?
Saat ayah menuturkan kisah ini, ada penasaran dan tanya yang singgah dalam hati. Mengapa dengan begitu gagah, ayah menolak ajakan si wanita? Padahal kalau mau, tak akan ada orang yang tahu. Istri pun jauh.  Sembari tersenyum ayah mengingat-ingat kisahnya puluhan tahun lampau. Ayah menolak ajakan wanita yang bukan istrinya, teringat dengan nasehat guru waktu bersekolah di SD Muhammadiyah. Walau hanya sampai kelas dua saja, ilmu yang didapat ternyata mengakar kuat. Kadang-kadang memang begitu. Keteguhan iman tidak bisa dilihat dari tingginya sekolah. Banyaknya ayat yang dihafal. Atau seberapa sering mengunjungi baitullah. Ada orang yang sedikit saja pengetahuan agamanya. Hafalan ayatnya pun ala kadarnya. Tajwidnya juga masih belepotan. Namun pengetahuan agamanya yang sedikit itu, betul-betul terpatri dalam hati. Dan tertanam menjadi keimanan yang teguh.
Ayah adalah salah satu contoh orang yang seperti itu. Pengetahuan agamanya tak banyak amat. Berbekal ilmu sampai kelas 2 SD, salat lima waktu tak pernah beliau lalaikan. Meskipun penguasaan beliau terhadap Al-Quran belum terlalu baik. Dasarnya ayah memang orang yang senang belajar. Selalu ingin tahu. Dia belajar secara otodidak. Tanpa guru hanya dengan buku. Ada satu buku yang sangat membantu ayah memahami Islam. Bukunya berjudul “Risalah Doa”. Inilah buku yang menjadi teman setianya. Menjawab segala tanya bila ada. Satu-satu, beberapa doa mulai beliau hapal dan amalkan. Kelebihan buku ini, adalah punya tiga teks. Ada teks arab, artinya dalam bahasa Indonesia dan tulisan latin dari bahasa Arab. Ini sangat membantu, untuk mereka yang belum lancar membaca Al-Quran dalam tulisan aslinya. Dan ternyata, nama saya “Sabran” terambil dari penulis buku Risalah Doa itu. Mungkin harapan ayah, kelak anaknya yang bernama Muhammad Sabran ini, bisa mengikuti jejak sang penulis buku Risalah Doa. Menebar inspirasi dan bermanfaat untuk banyak orang. Kalau memang begitu harapan ayah, insya Allah ananda akan menunaikannya segera dan semampu yang ananda bisa. Penulisan buku ini, adalah salah satu ikhtiar untuk berbagi inspirasi. Kepada anak, yang rindu berbakti pada orang tua. Selain buku yang bernuansa religi, ayah juga gemar membaca buku kesehatan. Apalagi jika membahas tentang pijat refleksi. (MS)

Di Balik Sosok Ayahku

“Di balik lelaki yang kuat, ada wanita yang hebat.”
Di hati setiap anak, pasti ada porsi cinta yang tidak bisa tergantikan. Cinta itu hanya untuk ibu. Coba sebut, para lelaki hebat di dunia ini. Pasti di belakangnya berdiri wanita yang selalu tegar. Di balik lelaki yang kuat, ada wanita yang hebat. Begitu pesan pepatah. Ambil contoh Rasulullah. Lelaki teragung sepanjang zaman. Saat pertama mendapat wahyu, gemetaran badannya. Beliau menggigil sejadi-jadinya. Pulang ke rumah dengan wajah pucat pasi. Beruntunglah, di depan pintu telah siap istri nan cantik jelita, Khadijah. Zammiluni, zammiluni, zammiluni. Selimuti saya, selimuti saya, selimuti saya, pinta Rasulullah. Tak banyak tanya, Khadijah lalu membungkus Rasulullah dengan selembar selimut. Inilah hebatnya wanita, istri solehah. Dia selalu hadir, pada waktu yang tepat. Menenangkan saat kebingungan berkecamuk. Menghangatkan ketika dingin hati datang menyergap.

Inilah hebatnya wanita. Apalagi bila dia sudah menjadi ibu. Di sinilah tercapai kebahagian yang sempurna. Ibu adalah seorang wanita super. Begitu luar biasanya, sampai-sampai Rasulullah meletakkan surga di bawah telapak kakinya. Bersama ayah, pelan-pelan, ibu menata istana rumah tangganya. Indah sekali, melihat mereka mengajarkan kepada kita anak-anaknya, tentang praktek rumah tangga yang sakinah, mawadah juga rahmah. Mengajarkan tentang cinta, memang tak perlu banyak bersilat cinta. Karena cinta itu butuh bukti, bukan sekadar janji. Setuju?

Oke, sedikit tentang ibuku, namanya Mukhlisa binti Ilyas. Nama ini yang selalu bersenandung di setiap akhir doaku. Memang harus begitu. Bila nama ibu terlupa dalam setiap doa, maka wajarlah jika sang anak mendapat predikat: Durhaka. Beliau lahir di Desa Karang Karangan. Ini tempatnya di Sulawesi Selatan. Tepatnya di Kota Palopo. Bertemu dengan ayah, lalu merajut cinta suci, tanggal 27 Mei 1973. Sudah cukup lama memang. Hingga maut memisahkan keduanya. Ayah pergi tinggalkan ibu, pada 31 Maret 2011. Tidak hanya di setiap doa, ibu selalu hadir. Dalam training-training yang saya bawakan pun, cerita tentang ibu mendapat porsi tersendiri. 
 ***
Bahkan harus saya akui, inilah salah satu momentum terpenting dalam trainingku. Momen saat bercerita tentang ibu. Jika kisah ini telah tercerita, menderaslah air mata peserta dan air mataku. Di sini, saya akan berbagi tentang cerita itu. Begini kisahnya:

Syahdan, ada seorang ibu bersama anaknya. Ayah, sudah tiada. Ibu menjadi tulang punggung keluarga. Untuk menyambung hidup, sang ibu bekerja sebagai tukang masak. Menyajikan hidangan untuk guru-guru di sekolah. Tepat pula di tempat itu, anaknya bersekolah. Hingga sampai pada satu masa, sang ibu bersua dengan anaknya.

“Anakku…” Sekadar menyapa. Perlambang cinta seorang ibu. Namun yang disapa, justru memerah parasnya. Sebagai pertanda malu yang luar biasa. Amarah bergejolak di dalam dada. Ditambah rasa khawatir akan malu yang siap dia tanggung. “Mengapa wanita tua ini menyapa pada tempat yang tidak tepat?” Sang anak marah, walau hanya dalam hati saja.

Benar saja, esok hari dia menjadi bahan olok-olokan teman. Serasa dunia ini begitu sempit. Dirinya dipandang hina. Bukan karena dia anak tukang masak. Tapi lantaran memiliki ibu bermata tak sempurna. Ibunya bermata picak, bermata satu.

Sejak hari itu, ada komitmen di dalam hatinya. Dia akan sungguh-sungguh belajar. Biar kelak menjadi orang sukses. “Hari ini kalian silakan mengolok-olokku. Tapi lihat saja nanti, kalian akan aku buat terkagum-kagum. Aku harus sukses. Ya, harus sukses.” Itu tekadnya dalam hati. ini tekad harga mati. Tak bisa lagi ditawar-tawar.

Baginya hidup ini bagai sebuah kapal. Kapal diciptakan bukan untuk diikatkan di tepi dermaga. Diterpa dengan ombak yang kecil-kecil saja. Tapi kapal diadakan untuk mengarungi luas samudra. Siap untuk ditampar ombak laut nan dahsyat. Hidup pun begitu. Bila ingin sukses,carilah tantangan di negeri orang. Dia mendapatkan beasiswa untuk belajar ke luar negeri. Meninggalkan ibu yang bermata picak.

Singkat kisah, impiannya menjadi nyata. Kesuksesan telah dia genggam. Namun nun jauh di sana, ibu selalu mengikuti tumbuh kembang anaknya. Yang namanya rindu, memang sulit untuk dibendung. Hingga satu waktu, ibu datang berkunjung ke rumahnya. Sekadar untuk berjumpa sapa. Berdecak kagum ibunya, saat baru sampai dip agar rumah. Di hadapannya ada bangunan laksana istana. Di halamannya yang luas ada makhluk kecil yang teramat lucu. Berlari-lari. Asyik menikmati permainannya. Dalam hati sang ibu bergumam, “Itu pasti cucuku.”

Hati-hati, dia dekati anak belia itu. Niat hati hendak mengelus keningnya. Tapi apa hendak dikata, si cucu justru lari ketakutan. Sembari berlari dan berteriak-teriak, “Ayah…ayah…ayah…!” Dia berlari, takut dengan sosok wanita tua bermata satu. Sungguh terkejut ayahnya saat keluar. Di hadapannya ada wanita tua yang ringkih. Raut wajahnya tak lagi asing dipandang mata. Itu ibunya.
Tapi, hati telah diselimuti durhaka. Sang anak pura-pura tak mengenal ibunya. Bukan menyambut dengan senyum manis dan peluk mesra. Justru hardikan dan usiran yang dia teriakkan pada ibunya. Dengan langkah gontai dan hati kecewa, ibunya melangkah pergi. Menjauhi rumah yang bagai istana itu. Apalah daya, maksud hati mengobati rindu. Namun yang didapat, penistaan dari anak sendiri.
Allah memang selalu punya rencana. Yang manusia tak pernah tahu akan terjadi apa. Ada reuni akbar, di tempatnya sekolah dulu. Dia tak bisa membohongi hati kecilnya. Namanya anak, pastilah ada kerinduan dalam hatinya untuk sang ibu. Hanya saja, saat reuni itu ibunya tidak terlihat. Ya, sang juru masak sekolah dulu. Seharusnya dia juga hadir. Membawa makanan dan minuman untuk para tetamu. Rasa penasaran kian membuncah dalam diri. DI mana wanita bermata satu itu? Di mana ibu? Ingin bertanya kepada handai taulan yang ada di situ, rasa-rasanya malu. Masa lulusan luar negeri, kaya harta lagi, punya ibu bermata satu. Dia memutuskan untuk pergi sendiri mencari informasi. Menyusuri jalan setapak, yang dulu tiap hari dia lalui. Rumah kecil itu, masih sama dengan yang dulu. Tiba-tiba saja, kenangan-kenangan indah dengan ibu, mulai terbentang dalam ingatan.
Pintu diketuk, salam diucap. Sekali dua kali, tak ada yang menjawab. Berkali-kai, pun sama, jawaban yang dinanti tak kunjung ada. “Maaf, apa anda anak dari ibu yang tinggal di sini?” Ada suara dari belakangnya.
“Iya betul, dia ibu saya. Ke mana beliau pindah?”
Yang ditanya hanya tertunduk. Matanya mulai berkaca-kaca. Jelas sekali ada kesedihan di sana. “Beberapa hari yang lalu, ibumu sudah tiada.” Seperti ada halilintar yang menyambar. Rasanya badan tiba-tiba lemas seperti tak bertulang. Tiada kata yang kuasa untuk diucap. Kecuali air mata, yang pelan-pelan mulai turun berlinang. “Ibumu hanya menitipkan sepucuk surat ini.”
Tanganya gemetar. Menerima selembar kertas putih yang sudah lusuh. Seolah ada bayang-bayang raut wajah ibunya di sana. Perlahan-lahan, dia buka kertas wasiat itu. Penasaran, apa gerangan pesan terakhir ibunda. Begini isi suranya:

Assalamu Alaikum Wr.wb
Buat anakku tercinta
Peluk cium dari Ibu yang rindu pelukanmu.
Surat ini ibu tulis saat ibu terbaring sakit, dan ibu merasa tidak lama lagi ajal ibu akan tiba karena tubuh yang semakin lemah. Tapi aku tak bisa pergi dengan tenang sebelum ibu minta maaf dan bercerita tentang satu hal .

Anakku yang saya cintai dan banggakan.
Ibu merasa bangga dengan kepintaran dan kesuksesan telah engkau raih selama ini, tapi yang pasti dalam surat ini ibu ingin menyampaikan perasaan bersalah ibu. Apa itu?
Ibu minta maaf karena ibu pernah menegurmu disekolah dan itu menjadi awal engkau menjadi ejekan teman-temanmu bahwa engkau anak yang ibunya bermata satu. Ibu minta maaf karena pernah membuat anakmu menangis dan ketakutan.

Anakku yang ibu cintai
Ada satu hal lagi yang ingin ibu sampaikan. Pada saat engkau kecil dulu, engkau asik bermain-main dengan temanmu dengan riangnya. Tapi tidak lama kemudian ibu mendengarmu menangis dengan kerasnya, meraung-raung seakan merasakan sakit yang sangat. Maka ibupun mengendongmu dengan penuh rasa cinta dan ibu membawamu kerumah sakit karena melihat begitu banyak darah diwajahmu, walaupun pada saat itu ibu tau, ibu tidak memiliki uang sepeserpun.

Sesampainya di rumah sakit engkau langsung ditangani oleh beberapa dokter di ruangan UGD. Aku hanya bisa menunggu diluar menunggu kabar selanjutnya, dan tanpa terasa ada seorang dokter yang membangunkanku dari tidurku sejenak menghilangkan rasa lelah berlari tadi. Maaf ibu harus membangunkan ibu, ia dokter bagaimana, bagaimana kondisi anakku dokter ? apakah ia sehat pak dokter ? (ibu terus bertanya dengan sedikit tetesan air mata). Alhamdulillah bu anak anda selamat, ibu langsung memeluk dokter dan mengucapkan terimakasih dokter…terimakasih. Tapi ada satu hal yang ingin kami sampaikan kepada ibu….iya apa itu dok? Maaf bu, kami hanya manusia biasa, anak anda mengalami luka yang sangat berat pada matanya dan harus menjalani hidup selanjutnya dengan satu buah mata. Maaf ibu, sambil menangis dan memeluk dokter. Dokter…..dokter ambil mata saya…ambil mata saya dan berikan kepada anak saya dokter.
( Saat membaca kalimat itu, air matanya mengalir dengan derasnya dan seakan tidak sanggup lagi membaca kata-kata dalam surat itu. Ia hanya menyesal dan merasa sangat bersalah.) seandainya aku tau sejak dulu bahwa mata yang saya gunakan ini adalah mata ibu saya, maka saya akan mencintainya dan tidak malu memiliki ibu yang bermata satu. Saya akan memberikan anak saya untuk di temani bermain. Ya Allah kenapa ini harus saya tau setelah ia pergi untu selamanya, Ya Allah ampunilah aku

Dokterpun membawa ibu dan dirimu keruang operasi, dan Alhamdulillah operasinya sukses. Ibu merasa tenang dapat menceritakan hal ini anakku. Ibu berharap dalam operasi itu dan senantiasa berdoa semoga mata itu memberikan manfaat dan dapat membuatmu sukses.

Tak lupa ibu mengucapkan terimakasih banyak karena dengan mata itu enggau telah memperlihatkan ibu ilmu yang banyak, dunia yang begitu luas dan masih banyak lagi, terimakasih anakku
Peluk cium dari ibumu.
Wassalam
***
Ini sedikit cerita. Semoga bisa menggugah. Bahwa ada orang yang teramat sayang dengan kita. Dialah ibu. Walau, kadang-kadang kita salah menilai. Karena memang, wujud sayang orang tua itu beda-beda. Ada yang menunjukkan rasa sayangnya dengan nasehat yang keras. Sampai-sampai, kita mengiranya marah. Tidak, beliau tidak marah. Justru itu bukti sayangnya dalam bentuk yang berbeda.
Kalau memang mereka tak sayang, lalu untuk apa ayah membanting tulang, peras keringat bekerja seharian? Apa pula maksud ibu, pagi-pagi sudah berjibagu dengan segala perkakas dapur, di kala kita masih terbaring nyeyak? Jawabannya hanya satu. Itu bukti kecintaan mereka kepada kita, anak-anaknya. Kalau sudah begini, alasan apalagi yang membuat kita enggan berbakti kepadanya? Ayo, datangi ibu, jumpai ayah. Ambil, jabat dan cium mesra tangannya. Memohon maaf atas segala khilaf yang ada. Mumpung keduanya masih ada di dunia. Karena kelak, akan ada masanya, kita ingin menjabat tangannya tapi semua sudah tidak bisa. Sebab mereka sudah tak ada. Hanya ada nisan bertulis namanya dan gundukan tanah, pertanda pusara.
Seperti yang sekarang saya rasakan. Masih ingin bercengkrama dengan ayah dan ibuku. Akan tetapi, Allah telah memisahkan kami. Hanya doa dan surah yasin yang bisa terkirimkan untuk beliau. Juga buku ini yang bercerita tentangnya. Kalau ada keberkahan dan pahala dari buku ini, semoga Allah juga berkenan mengirimkan untuk kedua orang tuaku, Amin. Berharap kelak, perjumpaan yang kedua dengannya adalah di surga. Sebuah pertemuan yang akan abadi selamanya.
Ayah, ibu, engkau sepasang permata hati, yang selalu aku sayang!
(MS)
 
Copyright © 2014 Muhammad Sabran. Designed by OddThemes Modified by Blog Teknisi