KECANDUAN SEDEKAH

*Kisah nyata yang bisa menjadi inspirasi untuk kita semua

"Mas, kita harus bayar kontrakan untuk diperpanjang 2 tahun. Dua minggu lagi udah habis masa kontrak." Istriku mengulang kalimat itu setiap hari. Semakin berkurang jatah hari nya. 

Aku sudah tak tahu harus berbuat seperti apa. Uang yang ada ditangan cuma tersisa 1,5 juta. Itupun untuk uang saku anak-anak dan kebutuhan makan seminggu lagi. Sedangkan kontrakan rumah harus bayar 20 juta. Uang darimana. Apalagi dagangan bakso yang kupunya semakin hari semakin sepi. 

Akupun merenung. Memutar otak. Tapi hasilnya nihil. Mau gadaikan rumah, emang rumah siapa yang mau digadaikan... Gak mungkin juga rumah mertua, bisa jadi bahan ledekan para ipar nanti. 

Adzan dhuhur berkumandang. Aku tersadar dari lamunanku, langsung saja kuambil air wudhu. Kulangkahkan kakiku menuju masjid. Kucurahkan segala kegelisahan hatiku pada sujud ku, kuceritakan segala masalahku padaNya, aku berserah diri, karena hanya Dia lah yang mampu memberi pertolongan padaku. 

Selesai sholat berjamaah, ternyata ada kajian bersama ustadz idola ku. Waahh, kebetulan banget nih, ada kajian, aku harus ikut. Rohaniku butuh siraman, butuh pencerahan. 
Akupun segera duduk dideretan paling depan. 

"Harta yang disedekahkan adalah harta yang paling kekal abadi nantinya, dan sedekah itu pula yang akan menolong diri kita sendiri."

"Jangan pernah takut bersedekah, karena bersedekah tak akan membuat kita menjadi miskin."

"Uang yang disedekahkan akan dikembalikan oleh Allah swt menjadi berlipat-lipat."

"Prioritaskan Sedekah, jangan menunggu ada sisa baru sedekah."

Itulah point yang aku tangkap dari tema kajian siang ini. 

Aku pun segera pulang, dan mengambil sisa uang yang aku punya. Kulajukan motorku ke salah satu panti asuhan yang terdekat. 

Bertemu dengan ibu panti asuhan. Kuserahkan semua uang yang kupunya, sambil aku meminta doa, di doakan agar masalahku segera mendapat jalan keluar. 
Akupun pulang dengan hati bahagia. Seperti tak punya masalah berat. Istriku heran dengan perubahan sikap ku. Aku berusaha melupakan kejadian kemaren tanpa aku harus bercerita kepada siapapun termasuk istriku. 

"Mas, gimana, sudah dapat hasil ? Kurang 6 hari lagi. Aku jadi khawatir, gelisah, gak bisa tidur..." Lagi-lagi istriku mengingatkan masalah uang perpanjangan kontrakan.

"Belum dek." Aku tarik nafas panjang. Kali ini aku tak bisa tenang lagi seperti hari kemaren. Mulai lagi timbul rasa khawatir, kalau Allah belum membalas sedekahku berlipat-lipat. 

"Besok anak-anak waktunya bayar daftar ulang juga. Tagihan hutang diwarung sebelah juga udah manggil-manggil."

Deg. Jantungku langsung berdetak lebih cepat dari biasanya. Tak ada lagi uang yang tersisa. Sudah aku sedekahkan semuanya. 

"Uang yang di laci kok gak ada mas..." Istriku setengah berteriak ketika tahu uangnya telah raib. 

"Eh, anu, krmaren uang nya sudah mas sumbangin ke panti asuhan..."

"Apa mas...??? Itu uang terakhir kita, kok kamu sumbangin semua, terus anak-anak gimana, makan kita gimana, tagihan warung gimana..." Istriku mulai ngomel gak karuan. Aku berusaha menenangkannya. 

"Sabar dek, nanti diganti sama Allah."

"Sabar gimana, sudah tinggal 6 hari lagi belum dapat uang malah sampean sumbangin juga sisa uangnya. Sedekah ya sedekah, tapi ya mikir kondisi kita juga dong mas. Sedekah itu semampunya, kalo kita ada lebihan, gapapa kita sedekahin." ujar istriku sewot. Manusiawi juga sih dia berkata seperti itu, karena lebih mengutamakan kebutuhan kami dulu baru orang lain, dan juga karena kami yang tak paham tentang ilmu sedekah.

Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa lagi. 

"Maafkan aku dek, aku pikir dalam seminggu ini, Allah akan kasih kita 10x lipat dari uang yang kita sumbangkan. Ternyata masih nihil juga."

"Terserah sampean mas, mulai sore ini kita gak bisa makan, anak-anak juga besok gak bisa berangkat ke sekolah." Istriku berlalu meninggalkan aku dengan muka cemberut. 

"Ya Allah... Gak salah kan apa yang sudah aku lakukan ?" aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Lagi-lagi aku pasrah. 

********

Tibalah waktu habis kontrakan rumah. Alhasil tak ada uang yang kudapat, akhirnya aku dan istri sepakat kembali ke pondok mertua indah. Tanpa sepeser uangpun yang kami bawa. 

Alhamdulillah punya mertua yang pengertian, kalo kondisi anak dan menantunya lagi krisis money, akhirnya pertolongan datang, kami dikasih modal 400 ribu untuk jualan nasi didepan rumah. 

Aku dan istri harus pandai-pandai mengelola uang tersebut supaya menghasilkan pendapatan yang nantinya bisa untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan ditabung untuk biaya kontrak rumah. 

Dari dulu aku selalu punya angan-angan jika sudah rumah tangga sebisa mungkin tidak tinggal bersama mertua. Biarpun masih kontrak, yang penting udah pisah. Agar satu sama lain tak saling mencampuri urusan rumah tangga.

Sebulan sudah aku berjualan nasi bungkus. Setiap hari bisa menyisihkan yang 100 ribu, masuk kedalam celengan semar yang dari tanah liat. Alhamdulillah. 

Tiba-tiba datang seorang pemuda menghampiri lapak jualanku. Namanya mas Imron. Pegawai salah satu pabrik keramik yang kantornya ada didekat rumah mertua. 

"Mas, nasinya sebungkus berapa?"

"Murah mas, cuman 7000 saja. Lauknya bisa pilih, ada ayam, bandeng, telor dadar, dan lain-lain." jawabku sopan. 

"Kalo perusahaan tempatku kerja mau pesan banyak bisa kah mas?" tanya dia lagi. 

"Wah bisa banget mas, monggo, sampean mau pesan berapa ?" pikiranku mulai melayang kesana kemari, berharap dia akan pesan 100 nasi bungkus setiap harinya. Heheheee, ketinggian khayalanmu Suedi... Batinku. 

"Kemaren bos saya bilang kalo mau pesan nasi 250 porsi setiap hari, untuk jatah makan siang divisi pemotongan keramik. Lauknya tiap hari harus ganti-ganti. Kalo mas Suedi sanggup, akan dibuatkan kontraknya dulu selama 6 bulan."

Haahhh?? Aku melongo, terkejut nggak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Aju cubit dan tepuk-tepuk pipiku. Sakiitttt. Berarti aku nggak sedang bermimpi. Ini nyata. 

"Beneran mas?" tanyaku lagi meyakinkan. 
Mas Imron mengangguk mantap.

"Sebentar mas," Aku berlari memanggil istriku. Kami berdua tergopoh-gopoh menemui mas Imron kembali. 

"Bagaimana dek, kamu sanggup nggak ?"

Istriku langsung mengangguk juga. 

"Baiklah kalo sanggup. Akan saya sampaikan ke bos dulu. Nanti akan saya kabari lagi. Saya pamit dulu ya mas, mbak." Setelah salaman, mas Imron berlalu meninggalkan aku dan istriku yang komat kamit terus mengucap rasa syukur. Alhamdulillah.

********
Aku dan istri sudah berada di kantor pabrik keramik. Akan tanda tangan kontrak kerjasama. 

Aku tak henti-hentinya mengucap Alhamdulillah Ya Allah... Ketika melihat angka rupiah yang tertera di kertas bermaterai itu. 

250 x 7000 x 156 hari = Rp 273.000.000

Dibayar dimuka alias CASH

Keuntunganku saat itu sebesar 30% dari 273 juta, berarti sebesar 82 juta

Aku dan istri langsung sujud syukur setelah uang pembayaran sudah aku pegang. 

"Maturnuwun Ya Allah. Kau mengganti uang 1,5 juta ku dengan berlipat-lipat setelah aku tak mengingat nya lagi bahwa aku pernah bersedekah. 

Dari keuntunganku, aku prioritaskan untuk aku sedekahkan lagi ke panti asuhan. Baru sisanya aku buat beli perlengkapan memasak dan bahan-bahan. Aku juga mengajak tetangga kanan kiri untuk bersedia membantuku di bagian dapur. 

Sejak saat itu, usaha jualan nasi ku mulai meningkat. Omzet meroket, meningkat drastis. Hingga aku dan istriku kecanduan sedekah. 

Bahwa dengan prioritas sedekah, aku bisa merubah nasib hidup ku dan keluarga. Aku sudah bisa meng umroh kan kedua orang tua dan mertua ku. Yang dulunya aku hanya bisa kontrak rumah, sekarang aku sudah bisa membeli rumah sendiri secara CASH. 

Yakinlah dengan "The Power Of Sedekah" akan mengubah kehidupan kita. 
Hidup juga akan lebih berkah, tentram, dijauhkan dari segala marabahaya.
Tak perlu menunggu kaya untuk bersedekah. 
Jalankan kewajiban berbagi 2,5% dari harta kita untuk dhuafa, anak yatim, atau kepada siapapun yang butuh pertolongan. Rejeki pasti akan datang tak salah alamat.

Share on Google Plus

About Muhammad Sabran

0 komentar:

Posting Komentar